Dunia jurnalistik adalah mesin waktu yang bergerak teramat cepat. Begitu kaki Anda menginjak pedal gas sebagai seorang wartawan, waktu seolah bukan lagi milik Anda sendiri. Perburuan berita dari pagi hingga larut malam, investigasi di lapangan, dan dikejar tenggat waktu (deadline) cetak di ruang redaksi setiap harinya, perlahan menyita seluruh eksistensi hidup saya. Karier saya di media perlahan mulai merintis jalan menuju kematangan. Pena saya semakin diperhitungkan. Namun, di balik riuhnya dunia luar, sebuah sunyi yang mencekam sedang merayap di dalam rumah kami.
Lelaki perkasa itu akhirnya mulai goyah. Ayah saya, Ti Basi Kona, jatuh sakit.
Sosok tangguh yang dulu tubuhnya sekokoh semen cor, yang lengannya terbiasa memikul puluhan kilogram batako, kini harus menyerah pada takdir biologisnya. Beliau jatuh sakit parah hingga harus dilarikan dan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Di sinilah hidup menyodorkan ironi yang paling kejam bagi saya. Secara fisik, saya masih tinggal serumah dengan Ayah di Desa Sukma. Namun, karena tuntutan pekerjaan sebagai jurnalis yang menuntut saya siap sedia 24 jam di lapangan, kami justru menjadi makhluk yang teramat sulit untuk bertemu.
Seringkali, saya keluar rumah saat subuh hari ketika Ayah masih terlelap dalam sakitnya, dan saya baru kembali ke rumah melintasi tengah malam ketika matanya sudah terpejam menahan nyeri. Ada rasa bersalah yang teramat besar menghujam dada saya setiap kali memandangi pintu kamarnya di larut malam; saya sedang sibuk menyuarakan urusan orang lain di koran, sementara waktu saya untuk lelaki yang membangun seluruh fondasi hidup saya justru terkuras habis tak bersisa.
Tangisan di Sisi Ranjang: Maaf dari Seorang Jenderal Proyek
Hingga tiba pada suatu hari di rumah sakit, di sela jeda memburu berita, saya duduk bersimpuh di samping ranjang tempat beliau terbaring. Tubuhnya sudah teramat ringkih, namun sorot matanya yang teduh masih menyimpan sisa-sisa kewibawaan seorang kepala keluarga.
Di dalam ruang perawatan yang sunyi itu, Ti Basi Kona menatap saya dengan tatapan yang teramat dalam. Perlahan, air mata menetes dari sudut matanya yang keriput—sebuah pemandangan yang teramat langka, karena sepanjang hidup saya, Ayah adalah simbol ketangguhan yang tak pernah memperlihatkan air mata di depan anak-anaknya.
Beliau memegang tangan saya, lalu dengan suara yang bergetar menahan tangis, beliau membisikkan kata-kata yang seketika meremukkan seluruh pertahanan batin saya. Ayah meminta maaf. Beliau menangis karena tahu, ia tak akan lagi bisa berdiri tegap mengawal langkah saya ke depan. Ada duka yang teramat dalam di wajahnya saat berbisik bahwa beliau tidak akan bisa lagi mendampingi saya, tidak akan sempat melihat kesuksesan saya di masa depan, dan—yang paling memukul batinnya sebagai seorang ayah—beliau tidak akan mampu lagi mendampingi untuk menikahkan anak bungsunya ini di pelaminan.
Titik Balik 2013: Meninggalkan Pena Demi Ayah
Memasuki tahun 2013, langkah kaki saya rasanya makin tak menentu. Kondisi Ayah yang terus sakit-sakitan membuat pikiran saya melayang-layang di ruang redaksi. Fokus saya pecah berkeping-keping. Saban hari di depan komputer Radar Gorontalo, yang terbayang di pelupuk mata saya hanyalah wajah ringkih Ti Aba yang terbaring di rumah. Nurani saya berbisik keras: saya sudah kehilangan Ti Mani di tahun 2011 tepat sebelum wisuda, saya tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama dengan kehilangan waktu bersama Ayah.
Sebuah keputusan radikal akhirnya saya ambil. Saya memilih membuang ego karier yang sedang bersinar. Saya resmi mundur dari dunia jurnalisme. Saya meletakkan status sebagai wartawan demi satu tujuan tunggal: pulang dan menemani sisa hari sang Ayah.
Agar dapur tetap ngebul namun memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk merawat Ayah di rumah, saya memutar kemudi hidup. Saya mengikuti seleksi dan akhirnya diterima menjadi Fasilitator PNPM Generasi Sehat Cerdas (GSC). Pekerjaan baru ini membawa saya kembali ke dunia pemberdayaan, namun kali ini dengan draf hati yang sepenuhnya terfokus untuk menjaga Ti Aba.
“Atiolo Ngana Uti Bolo Sendiri”
Sehari menjelang kepergiannya, sebuah momen yang teramat magis dan menyayat hati terjadi di rumah. Ti Aba tiba-tiba memanggil saya. Dengan suara yang teramat lembut dan sisa kekuatan yang ada, beliau meminta uang Rp100.000 kepada saya. Beliau berkata ingin pergi ke pasar untuk membeli beberapa barang belanjaan.
Saat menerima lembaran uang itu, Ayah menatap wajah saya dengan pandangan yang teramat sayu, seolah sedang membaca seluruh guratan lelah di wajah anak bungsunya. Dengan nada yang sangat pelan, keluar sebuah kalimat dari lisan beliau yang menghantam ulu hati saya:
"Atiolo ngana uti bolo sendiri..." (Kasihan kamu nak, nanti tinggal sendirian...)
Kalimat itu diucapkan dengan rasa kasih sayang yang teramat pekat. Itu adalah kalimat nubuat, sebuah isyarat pamit terselubung dari seorang ayah yang tahu bahwa jatah waktunya mengawal saya di dunia ini sudah habis. Beliau pilu memikirkan bagaimana nasib si bungsu ini jika nanti harus bertarung sendirian di kerasnya dunia tanpa ayah dan ibu lagi di sisinya.
Duka di Tengah Riuh Organisasi: Panggilan Jam 7 Malam
Takdir akhirnya menjemput di akhir tahun 2013. Dan Tuhan, dengan cara-Nya yang penuh rahasia, meletakkan malam perpisahan itu tepat di atas altar perjuangan organisasi yang sedang saya kawal.
Malam itu, saya sedang tidak berada di rumah. Sebagai seorang kader yang memegang tanggung jawab moral organisasi, saya sedang berada di lokasi mengawal jalannya Basic Training (LK-1) Kader HMI. Di tengah keriuhan menggembleng adik-adik mahasiswa dan pekikan semangat hijau-hitam yang menggema di dalam ruangan, waktu seolah berhenti tepat pada pukul 07.00 malam.
Sebuah panggilan masuk di handphone saya. Di layar tertera nama Kak Roy. Begitu tombol geser saya tekan, suara Kak Roy terdengar panik di ujung telepon, mengabarkan bahwa Ti Aba mendadak jatuh sakit parah.
Seketika itu juga, dada saya berdegup kencang. Pikiran saya langsung melayang pada kalimat lembut Ayah sehari sebelumnya. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung meminta izin pamit dari lokasi basic training. Saya tinggalkan forum organisasi malam itu demi mengejar waktu yang rasanya berjalan teramat buru-buru.
Dalam perjalanan pulang yang kalut, rasa cinta dan keinginan untuk menyenangkan hati Ayah membuat saya menginjak rem sejenak. Saya menyempatkan diri singgah di sebuah warung makan untuk membelikan Milu Siram Kuah Bugis kesukaan Ti Aba. Di tengah kepanikan yang mendera, di dalam hati saya masih menyimpan secercah harapan: semoga mangkuk milu siram dengan kuah khas hangat ini bisa memberikan sedikit kekuatan dan senyum di wajah tua Ayah saat saya tiba di rumah nanti.
Namun, draf takdir yang dituliskan Tuhan malam itu berjalan melompat lebih cepat dari harapan saya.
Begitu saya melangkah masuk ke dalam rumah di Desa Sukma dengan bungkusan milu siram di tangan, pemandangan di dalam rumah langsung meruntuhkan pertahanan saya. Ti Aba sudah berada dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mangkuk milu siram yang saya bawa tak pernah sempat menyentuh lisannya. Di ruang tengah, Kak Roy dan Kak Nain sudah bergerak cepat, bersiap-siap untuk mengevakuasi tubuh ringkih Ayah menuju Rumah Sakit Toto. Setelah pemeriksaan awal yang darurat di sana, kondisi Ayah yang terus menurun membuat pihak medis memutuskan agar Ti Aba segera dirujuk ke Rumah Sakit Aloe Saboe.
Garis Lurus Pukul 11.30 Malam: "Ti Aba So Pigi..."
Malam semakin larut membelah sunyi Kota Gorontalo. Di dalam bangsal perawatan RS Aloe Saboe, aroma obat-obatan berpadu dengan detak mesin ventilator yang ritmis. Kak Roy, Kak Nain, dan Cili Warni diminta untuk menunggu di luar ruang perawatan. Sementara saya, si bungsu yang dulu memegang tangan kasarnya di Lorong Sukma, diizinkan untuk tetap berdiri di dalam bangsal, mendampingi langsung di sisi ranjang tempat tubuh sang jenderal proyek terbujur lemah.
Saya memandangi wajah teduh Ayah di bawah temaram lampu rumah sakit. Mesin deteksi jantung di samping ranjang terus mengeluarkan bunyi statis yang menegangkan, merekam sisa-sisa daya hidup yang tersisa di dalam dada Ti Aba.
Tepat ketika waktu merayap melewati pukul 11.30 malam, sebuah pemandangan yang teramat sakral dan menyayat hati terjadi di depan mata saya. Di tengah kondisi tidak sadarnya, sebutir air mata perlahan menetes dari sudut mata Ti Aba, membasahi pipinya yang keriput. Bersamaan dengan jatuhnya air mata terakhir itu, bunyi statis mesin deteksi jantung mendadak berubah menjadi satu nada panjang yang flat. Garis di layar monitor berubah menjadi lurus. Degup jantung lelaki perkasa itu telah berhenti. Ti Aba telah tuntas memeluk takdir dunianya.
Dunia saya seketika senyap. Saya berdiri mematung di samping ranjangnya, memandangi wajah damai Ayah yang kini tak lagi merasakan nyeri akibat penyakitnya. Selama sepuluh menit penuh, saya memilih diam dalam keheningan yang pekat. Saya gunakan waktu sepuluh menit itu untuk menenangkan badai di dalam dada saya sendiri, memastikan semua ritme napas saya stabil, dan mengunci duka agar suara saya tidak goyah saat menyampaikan kabar ini pada kakak-kakak saya.
Setelah sepuluh menit berlalu dan suasana bangsal terasa benar-benar tenang, saya mengambil handphone dari kantong celana. Saya menekan nomor Kak Roy yang saat itu sedang duduk menunggu dengan cemas di koridor luar bersama Kak Nain dan Cili Warni.
Dengan draf suara yang berusaha saya tebalkan walau air mata mengalir deras di pipi, saya mengucapkan kalimat perpisahan itu:
"Kak... Ti Aba so pigi untuk selamanya..."
Tahun 2013 mengunci masa muda saya sebagai seorang anak yatim piatu. Orang-orang di luar sana mungkin melihat saya sebagai mantan Presma yang vokal, mantan Pendamping Kecamatan, atau aktivis HMI yang tangguh memimpin forum. Namun di dalam bangsal RS Aloe Saboe malam itu, saya hanyalah anak bungsu dari Lorong Sukma yang kehilangan kedua tiang perancah hidupnya.
Di atas sajadah duka, di samping tubuh dingin Ti Aba, saya melipat sejuta kesedihan menjadi sebuah keteguhan baru. Walau kini saya harus berjalan bolo sendiri tanpa belaian doa langsung dari Ayah dan Ibu, saya berjanji pada pusara mereka: "bata-bata" karakter, kejujuran, dan mental tanpa gengsi yang mereka susun di dalam diri saya tidak akan pernah roboh oleh badai apa pun. Saya akan berdiri tegap, memegang pena dan amanah rakyat, dan membayar tuntas air mata pelepasan Ayah dengan kesuksesan yang bermartabat di masa depan.



