Zulkifli Ibrahim, A.Md.,SH.,CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (2026)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


BAB 4: Pena yang Menyuarakan Rakyat

 Menyandang gelar Diploma III Teknik Alat Mesin Pertanian pada tahun 2012 tidak lantas membuat langkah kaki saya linier menuju bengkel alat berat atau hamparan sawah untuk mengoperasikan traktor. Di kantong saya ada ijazah teknik, namun di dalam dada saya, denyut nadi sebagai mantan Presiden Mahasiswa, Pendamping Lokal Kecamatan, dan takmirul masjid tetap berdegup kencang. Saya membutuhkan sebuah panggung di mana suara rakyat, ketidakadilan, dan dinamika sosial bisa saya suarakan dengan lantang.

Takdir Tuhan bekerja dengan cara yang sangat unik. Melalui kedekatan emosional dan interaksi organisasi, saya merapat ke lingkaran hijau-hitam: HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Gorontalo. Di sinilah saya menemukan ruang diskusi yang tajam dan persahabatan yang kokoh.

Ketika saya mengekspresikan ketertarikan untuk terjun ke dunia jurnalisme, kawan-kawan dan senior di HMI tidak tinggal diam. Mereka menjadi jembatan takdir yang membukakan gerbang baru bagi hidup saya. Nama-nama seperti Ketua Cabang Alvian Mato, Dewi Igirisa, Marlia Lumali, Jamaludin Dunggio, Jufri, Irwan Doli, Astrid Paputungan, Helmi Rasyid, dan masih banyak lagi senior lainnya, adalah sosok-sosok yang memberi dorongan moral sekaligus membuka jalan bagi saya untuk melamar menjadi seorang kuli tinta di Koran Radar Gorontalo. Berkat jaringan dan rekomendasi dari rahim HMI inilah, si anak bungsu dari Lorong Sukma resmi beralih rupa: dari memegang sekop kuli bangunan, kini beralih memegang pena wartawan.

Didikan Keras di Meja Training dan Garis Depan Polres Kota

Dunia pers bukanlah tempat bagi orang yang bermental lembek. Masuk ke Radar Gorontalo, saya tidak langsung dilepas begitu saja ke lapangan. Saya harus melewati masa training yang ketat dan disiplin tinggi.

Tuhan mempertemukan saya dengan mentor yang luar biasa hebat, seorang wartawan senior dari Gorontalo Post, Bung Roy Tilameo. Di bawah bimbingannya, saya digodok habis-habisan. Saya diajari bagaimana mengendus sebuah peristiwa agar bernilai berita, bagaimana menyusun teras berita (lead) yang memikat, hingga cara menembus narasumber yang bungkam. Didikan Bung Roy adalah didikan lapangan yang praktis, keras, namun penuh dengan integritas. Saya diajari bahwa pena seorang jurnalis tidak boleh dibeli oleh apa pun, ia harus murni bergerak demi kebenaran.

Ujian pertama setelah masa training itu tiba ketika redaksi memutuskan penempatan awal saya. Saya dilempar ke medan yang paling dinamis dan penuh ketegangan: Polres Gorontalo Kota.

Bagi seorang wartawan baru, pos kepolisian adalah sekolah kehidupan yang sangat keras. Saban hari, tugas saya adalah nongkrong di markas Polres Kota, menjalin hubungan dengan para penyidik, kasat, hingga kapolres, demi memburu berita kriminal dan hukum. Dari yang tadinya terbiasa menganalisis diagram mesin di kampus Politeknik, kini saya harus terbiasa melihat berkas perkara, garis polisi, ruang tahanan, hingga mendengarkan kesaksian dari para korban kejahatan dan pelaku kriminal.

Di pos Polres Kota inilah, mental "Raja OBK" dan ketangguhan kuli bangunan saya kembali terpakai. Menjadi wartawan kriminal menuntut saya siap sedia 24 jam. Kapan pun ada kejadian—baik itu tengah malam, subuh hari, di bawah guyuran hujan, atau di tengah terik matahari—saya harus langsung meluncur ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan fakta. Di balik kerasnya lantai Polres Kota dan riuhnya berita kriminal yang saya ketik setiap hari, saya menyadari satu hal: pena ini telah menjadi senjata baru saya untuk menyuarakan apa yang terjadi di tengah masyarakat.

Posyantek Botupingge: Pembuktian Sang Sarjana Teknik

Namun, di saat jemari saya mulai fasih mengetik jurnalisme investigasi dan kriminal di Radar Gorontalo, belahan jiwa saya yang lain—sebagai seorang sarjana Teknik Alat Mesin Pertanian—berontak tidak ingin tinggal diam. Saya tidak ingin ilmu mekanisasi yang saya tebus dengan peluh kuli dan air mata di kampus hanya menjadi selembar kertas ijazah di dalam lemari. Panggilan untuk mengabdi pada tanah kelahiran, Kecamatan Botupingge, kembali mengetuk pintu kesadaran saya.

Gagasan besar itu akhirnya mulai mewujud. Bersama Akri Pakaya, sahabat karib sekaligus teman sekelas saya semasa kuliah di Politeknik Gorontalo, kami mulai merancang sebuah wadah pemberdayaan. Kami beruntung dipertemukan dan dibimbing oleh seorang mentor senior yang luar biasa visioner, Bung Miskar Hiola. Di bawah bimbingan beliau, kami berdua resmi mendirikan Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi) Kecamatan Botupingge.

Mendirikan Posyantek bukanlah urusan administrasi di atas kertas belaka. Ini adalah urusan bagaimana mendekatkan teknologi modern agar bisa dipahami dan diaplikasikan langsung oleh para petani dan masyarakat kelas bawah di pedesaan. Kami harus menyusun draf proposal, mempresentasikan visi kami di hadapan birokrasi, hingga meyakinkan banyak pihak bahwa inovasi anak-anak muda Botupingge ini layak didukung.

Kerja keras dan ketajaman argumentasi kami—yang terasah dari dunia aktivis kampus—membuahkan hasil yang mencengangkan. Posyantek Botupingge berhasil menembus kepercayaan pemerintah hingga mendapat kucuran dana segar sebesar Rp 200 Juta. Sebuah angka yang sangat besar dan menjadi bahan bakar luar biasa bagi kami untuk bergerak masif membumikan teknologi tepat guna.

Keberhasilan finansial itu segera kami tebus dengan prestasi yang mengharumkan nama daerah. Melalui wadah Posyantek ini, kami menciptakan inovasi-inovasi berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) yang langsung menyentuh kebutuhan kerja masyarakat. Kami membawa karya-karya inovatif ini bertarung dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna.

Roda takdir kembali berputar secara puitis. Langkah kami tidak terbendung. Inovasi teknologi dari anak-anak Botupingge ini berhasil menyabet gelar juara, melesat tembus ke tingkat Provinsi, hingga puncaknya berhasil keluar sebagai utusan resmi yang mewakili Provinsi Gorontalo ke Tingkat Nasional!

Saat berdiri di ajang nasional pameran Teknologi Tepat Guna tersebut, memamerkan alat mekanisasi di hadapan para pejabat kementerian dan inovator seluruh Indonesia, saya tersenyum penuh haru. Di waktu-waktu tertentu saya adalah wartawan Radar Gorontalo yang memegang pulpen dan kamera memburu berita; namun di waktu yang lain, saya adalah konseptor teknologi yang membawa nama Gorontalo terbang ke panggung nasional.

Dua dunia ini, pers dan teknologi, melebur sempurna di dalam diri saya. Keduanya memiliki satu muara yang sama: mengabdi pada rakyat, menyuarakan isi hati mereka dengan pena, dan meringankan beban kerja mereka dengan bilah-bilah besi teknologi tepat guna.

Ujian Integritas: Pusaran Polemik SDN 54 Kota Gorontalo

Ketangguhan saya mengelola isu di lapangan sebagai jurnalis Radar Gorontalo akhirnya menemui ujian terbesarnya ketika sebuah pusaran konflik sosial dan kebijakan pemerintah pecah di pusat kota. Sebuah kasus yang kelak menjadi salah satu liputan paling ikonik, panas, dan menguras energi dalam karier awal jurnalisme saya: pembongkaran SDN 54 Kota Gorontalo.

Rencana alih fungsi lahan yang berujung pada eksekusi dan pembongkaran gedung sekolah tersebut seketika menjelma menjadi polemik raksasa yang mengguncang publik Gorontalo. Di satu sisi, ada syahwat kebijakan penguasa yang bersikeras melakukan pembongkaran; di sini lain, ada jerit tangis para guru, gelombang protes orang tua murid, dan nasib ratusan anak-anak sekolah yang terancam kehilangan ruang belajar tempat mereka merajut cita-cita.

Sebagai wartawan yang memegang pos liputan tersebut, saya memilih untuk tidak sekadar duduk manis menerima rilis berita di atas meja redaksi. Jiwa mantan Presiden Mahasiswa saya berontak. Saya turun langsung ke garis depan, berdiri di tengah-tengah puing-puing bangunan kelas yang mulai diruntuhkan, menghirup debu semen yang beterbangan, dan merekam setiap jengkal ketegangan yang terjadi di lapangan.

Meliput polemik sebesar SDN 54 adalah medan perang mental yang sesungguhnya. Tekanan datang dari berbagai arah. Intervensi dan lirikan mata tidak senang dari pihak-pihak yang berkepentingan menjadi makanan sehari-hari. Ada pihak yang menginginkan kasus ini diredam, namun nurani saya menolak bungkam. Setiap malam di ruang redaksi, jemari saya menghantam papan ketik komputer dengan bertenaga. Saya menuliskan laporan mendalam mengenai air mata anak-anak sekolah yang terlantar, mempertanyakan transparansi kebijakan di balik pembongkaran, dan memberikan porsi suara yang adil bagi rakyat kecil yang tertindas.

Di sinilah, draf mental anak seorang kuli bangunan yang dulu diajarkan di Lorong Sukma benar-benar diuji sampai matang. Ayah saya membangun rumah dengan bata dan semen, namun melalui berita-berita SDN 54 yang saya tulis, saya sedang menggunakan "bata-bata kata" untuk membongkar kejanggalan sistem dan menegakkan dinding keadilan bagi masyarakat. Liputan investigasi SDN 54 itu tidak hanya melambungkan nama saya sebagai jurnalis yang berani di Radar Gorontalo, tetapi juga menegaskan garis batas yang tegas dalam hidup saya: bahwa pena Zulkifli Ibrahim akan selalu berpihak dan bergetar menyuarakan jeritan rakyat yang hak-haknya dirampas.