Langkah
pertama saya melewati gerbang Politeknik Gorontalo pada tahun 2008 tidak
dilakukan dengan dada yang membusung sombong, melainkan dengan rasa syukur yang
mengalir tenang. Saya tahu persis, setiap jengkal lantai kampus yang saya pijak
adalah hasil dari doa kesembuhan Ti Mani, penebusan kelapa oleh Ti Basi Kona,
dan sisa-sisa kapalan di telapak tangan saya sendiri setelah dua tahun menjadi
pekerja kasar.
Sebagai
mahasiswa baru di jurusan Alat Mesin Pertanian (Mekanisasi Pertanian), masa Orientasi
Belajar Kampus (OBK) menjadi medan pembuktian pertama. Di saat mahasiswa
lain mengeluh karena tekanan fisik dan mental dari para senior, bagi saya,
semua itu tidak ada apa-apanya dibanding panasnya sengat matahari di lokasi
proyek atau dinginnya air sungai yang saya seberangi saat menuju SMA dulu.
Mental baja yang sudah ditempa sejak kecil membuat saya menjalani setiap tugas
OBK dengan tangguh, disiplin, dan tanpa mengeluh.
Hasilnya,
di akhir masa orientasi, saya dinobatkan sebagai Raja OBK Tahun 2008.
Sebuah pengakuan bahwa anak desa dari Lorong Sukma ini memiliki daya tahan yang
berbeda. Kepercayaan dari teman-teman seangkatan langsung mengalir setelah itu;
saya dipilih dan dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Tingkat.
Darah kepemimpinan Ayah yang terbiasa menjadi pusat komando di lapangan proyek,
kini resmi beralih ke dalam diri saya untuk memimpin teman-teman mahasiswa.
Ritme Hidup Dua Dunia: Mahasiswa dan
Kuli
Namun,
menyandang status sebagai "Raja OBK" dan "Ketua Tingkat"
tidak membuat saya lupa daratan, apalagi menjadi tinggi hati. Realitas ekonomi
tetap berjalan, dan biaya kuliah serta kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi
tanpa harus terus-menerus membebani pundak Ayah yang semakin menua. Di sinilah
ritme hidup saya terbelah menjadi dua dunia yang kontras namun saling
menguatkan.
Hari
Senin sampai Kamis, saya adalah seorang mahasiswa teknik seutuhnya. Kepala saya
dipenuhi rumus fisika, diagram mekanika, dan teori kejuruteraan mesin
pertanian. Saya duduk di barisan depan, memimpin teman-teman kelas, dan
menjinakkan teori-teori besi serta mesin di dalam laboratorium.
Begitu
hari Kamis berakhir, saya melepas jaket almamater saya. Hari Jumat, Sabtu,
hingga Minggu, saya kembali ke habitat lama: menjadi kuli bangunan.
Tangan
yang siangnya memegang jangka dan pena untuk menggambar teknik mesin, di akhir
pekan harus kembali memegang sekop, memikul semen, dan mengaduk pasir di bawah
terik matahari. Tidak ada rasa gengsi sedikit pun. Bagi saya, membagi waktu
antara bangku kuliah dan peluh kuli adalah sebuah seni bertarung yang indah.
Nasihat Ti Mani selalu terngiang di telinga, "yang membuat kalian besar
adalah rajin bukan gengsi." Justru, status saya sebagai kuli di akhir
pekan membuat saya menjadi mahasiswa yang paling menghargai setiap lembar modul
kuliah di hari kerja.
Di
tengah padatnya jadwal yang menguras fisik dan otak tersebut, saya sadar bahwa
hati pun butuh sandaran agar tidak gersang. Saya memutuskan untuk bergabung
dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Di lingkungan LDK inilah, saya
menyiram rohani saya dengan nilai-nilai spiritual, menjaga agar langkah kaki
saya tetap lurus, dan memastikan bahwa ambisi intelektual saya sebagai
mahasiswa teknik selalu berjalan beriringan dengan ketukan iman di dalam dada.
Melompat ke Angkasa: Makassar dan
Teknologi Masa Depan
Ketekunan
mengawinkan logika teknik dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil yang tidak
pernah saya bayangkan sebelumnya. Jurusan Alat Mesin Pertanian menuntut kami
untuk akrab dengan otomatisasi dan mekanisasi tingkat tinggi. Kemampuan
berhitung yang dulu pernah membawa saya mewakili SDN Buata di lomba matematika
kembali terasah tajam.
Pada
tahun 2008 itu juga, saya terpilih untuk mewakili kampus mengikuti Bimbingan
Teknis (Bimtek) di Makassar. Bukan sekadar bimtek biasa, melainkan
pelatihan tingkat lanjut yang sangat bergengsi terkait persiapan lomba Robotika
dan Roket. Sebuah lompatan teknologi yang luar biasa bagi seorang anak yang
masa kecilnya dihabiskan di dalam Lorong Sukma.
Momen
keberangkatan menuju Makassar itu mencetak sebuah sejarah baru yang teramat
sakral dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, si anak bungsu
tukang bangunan ini melangkah masuk ke dalam bandara dan naik pesawat
terbang.
Saat
burung besi itu mulai bergerak cepat menyusuri landasan pacu dan perlahan
mengangkat tubuhnya membelah awan Gorontalo, dada saya bergemuruh hebat. Dari
balik jendela pesawat, saya melihat daratan di bawah yang perlahan mengecil.
Saya teringat sepeda tua yang saya kayuh belasan kilometer ke MTs Al-Huda. Saya
teringat perahu kayu Ka Imin yang bergoyang ditiup arus sungai menuju SMA
Kabila. Dan kini, saya berada ribuan kaki di atas permukaan laut, terbang
menuju pusat peradaban teknologi di Sulawesi Selatan.
Di
dalam kabin pesawat itu, saya membatin dengan mata berkaca-cave: Ti Aba, Ti
Mani... anak bungsumu yang dulu menjinjing wadah popolulu, hari ini terbang
naik pesawat karena ilmu pengetahuan. Perjalanan ke Makassar bukan sekadar
tentang belajar merakit robot atau menghitung daya luncur roket, melainkan
sebuah penegasan dari Tuhan bahwa tidak ada dinding pembatas yang terlalu
tinggi bagi anak seorang kuli, selama ia merawat mimpinya dengan kerja keras
dan doa yang tak pernah putus.
Membumi di Akar Rumput: Melahirkan Desa Sukma dan Menjaga Rumah Tuhan
Persentuhan
dengan teknologi tingkat tinggi di Makassar tidak lantas membuat saya menjadi
mahasiswa yang menara gading. Sebaliknya, hati saya justru semakin terpanggil
untuk melihat realitas di tanah kelahiran. Pada tahun 2009, sembari
mengurus himpunan sebagai Ketua HMJ Alat Mesin Pertanian, saya memutuskan untuk
menaruh satu kaki saya di dunia pengabdian masyarakat. Saya resmi bergabung
sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) untuk program PNPM
Mandiri Perdesaan.
Tahun
2009 itu juga menjadi tonggak sejarah yang paling emosional bagi tanah
kelahiran saya. Semangat perubahan membakar dada warga di tempat saya tumbuh.
Kami mendeklarasikan diri untuk berpisah, memekarkan diri dari rahim Desa
Luwohu, Buata, Tumbihe, dan Oluhuta. Lorong Sukma yang dulu sunyi, tempat Ayah
mencangkul dan Ibu menggoreng kue subuh hari, resmi bertransformasi menorehkan
takdir barunya: Desa Sukma. Menjadi bagian dari generasi yang
menyaksikan lahirnya sebuah desa baru menumbuhkan rasa tanggung jawab yang
besar di dalam dada saya.
Kapasitas
kerja dan kepemimpinan saya di akar rumput desa yang baru mekar ini rupanya
dinilai matang dengan cepat oleh para tetua dan warga. Setahun kemudian, pada
tahun 2010, di saat energi saya terkuras di kampus, warga Desa Sukma
justru mempercayakan amanah rohani yang teramat sakral ke pundak muda saya.
Saya didaulat menjadi Ketua Takmirul Masjid Al-Makmur Desa Sukma.
Amanah
menjaga rumah Tuhan di desa baru ini melengkapi peran saya yang di tahun 2010
itu juga dinaikkan kelasnya menjadi Pendamping Lokal Kecamatan.
Tahun
2010 itu menjadi tahun yang luar biasa gila sekaligus indah dalam hidup saya.
Di satu sisi, melalui proses demokrasi kampus yang dinamis, saya terpilih dan
resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa Pertama Politeknik Gorontalo.
Di sisi lain, saya adalah seorang Pendamping Lokal Kecamatan yang harus
mengawal program pemberdayaan, sekaligus seorang Ketua Takmirul Masjid yang
bertanggung jawab atas syiar dan kenyamanan ibadah warga di Desa Sukma.
Ritme
hidup saya benar-benar menguras energi: pagi hari mengenakan jas almamater
memimpin jalannya konstitusi BEM dan berhadapan dengan birokrasi rektorat, sore
hari menyusuri jalanan desa mengawal hak-hak warga kecamatan, malam hari
memastikan lampu-lampu Masjid Al-Makmur tetap menyala dan saf-saf jamaah tetap
terjaga, dan begitu akhir pekan tiba, dari hari Jumat hingga Minggu, saya
kembali melepas semua atribut mentereng itu untuk memeras keringat menjadi kuli
bangunan demi menyambung biaya hidup. Di atas perancah bambu, di bawah terik
matahari, saya merenungkan takdir hidup saya yang bergerak di berbagai dunia
sekaligus.
Saat
berdiri di podium pelantikan Presiden Mahasiswa, tatapan ratusan pasang mata
tertuju pada saya. Di hadapan forum yang terhormat itu, yang berdiri bukanlah
anak muda dari kalangan elit, melainkan anak bungsu dari seorang buruh bangunan
yang telapak tangannya kasar, Ketua Takmirul Masjid dari sebuah desa yang baru
mekar, yang di dompet ingatan selalu tersimpan kalimat Ti Mani: “yang akan
membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi.”
Dari Botupingge Menuju Senayan
(2011)
Tahun
2011 menjadi tahun di mana kepemimpinan saya diuji di tingkat nasional.
Langkah anak desa dari Botupingge ini melangkah jauh melintasi samudra menuju
ibu kota negara, Jakarta. Sebagai Presiden Mahasiswa, saya bertolak untuk
menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) HPMIG.
Puncak
dari perjalanan itu adalah ketika saya melangkah masuk ke dalam kompleks
parlemen, Gedung MPR/DPR RI di Senayan. Tempat di mana keputusan-keputusan
besar negara ini digodok. Berdiri di bawah kemegahan atap hijau Senayan,
berdiskusi dengan tokoh-tokoh nasional dan mahasiswa dari berbagai penjuru
tanah air, membuat saya sadar betapa jauhnya takdir telah membawa saya
berjalan. Dari debu jalanan Botupingge, melintasi sungai dengan perahu kayu,
kini anak kuli bangunan ini duduk di kursi parlemen Senayan membawa nama besar
Gorontalo.
Kenyataan Pahit di Garis Akhir:
Perjuangan Magang dan Air Mata untuk Ti Mani
Namun,
hidup selalu tahu cara membumikan kembali hati manusia. Di saat nama saya
berada di puncak aktivitas organisasi tingkat nasional, di rumah, sebuah
mendung tebal mulai bergelayut. Ti Mani mulai jatuh sakit parah.
Penyakit gula (diabetes) mulai menggerogoti tubuh teduh yang dulu setiap subuh
menggoreng popolulu untuk kami. Ibu membutuhkan perawatan penuh, dan
konsistensi saya kembali terbelah hebat.
Kondisi
keuangan kami kembali diuji pada titik paling kritis saat saya harus
menyelesaikan kewajiban akademik terakhir: magang kuliah. Di kantong
saya tidak ada dana sepeser pun untuk membiayai operasional magang. Menepis
segala status ego sebagai Presiden Mahasiswa atau Pendamping Kecamatan, saya
turun ke lapangan mengambil pekerjaan apa saja yang halal.
Saat
itu, ada sebuah acara yang digelar oleh Walikota. Saya mengambil peluang
menjadi juru catat massa yang hadir pada acara walikota tersebut.
Berdiri seharian, mencatat lembar demi lembar nama warga yang datang, demi upah
yang tidak seberapa. Namun dari lembaran rupiah hasil mencatat massa itulah,
biaya magang saya akhirnya tertutupi.
Sepulang
dari magang, kondisi Ti Mani semakin memburuk. Ibu sudah tidak boleh bangun
lagi dari tempat tidurnya. Tubuh tangguh yang dulu berdiri mendampingi Ti Basi
Kona kini terbujur lemah, hanya matanya yang menatap saya dengan pandangan
penuh kasih sayang yang tak pernah luntur.
Tiga
hari sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya, sebuah momen getir terjadi
dan akan selalu terpatri di dalam sanubari saya seumur hidup. Dengan suara yang
teramat lirih dari atas ranjang sakitnya, Ti Mani meminta sesuatu kepada saya.
Beliau ingin sekali makan Coto Makassar.
Mendengar
permintaan sederhana dari Ibu yang sedang sekarat itu, dada saya terasa seperti
dihantam godam yang teramat besar. Kenyataan pahit menampar saya seketika: saat
itu, saya tidak memiliki uang sepeser pun di dalam kantong.
Melihat
kondisi Ibu, tidak ada waktu untuk meratapi keadaan atau mengasihani diri
sendiri. Saya membuang jauh-jauh seluruh ego dan status mentereng saya sebagai
Presiden Mahasiswa. Tanpa berpikir panjang, saya berlari sekuat tenaga menuju
kampus Politeknik Gorontalo. Di sepanjang jalan pikiran saya kalut, air mata
menetes, dan satu-satunya tujuan saya saat itu adalah menemui siapa saja di
kampus yang bisa meminjamkan dana darurat. Saya tidak peduli lagi akan dianggap
apa oleh orang-orang kampus; bagi saya saat itu, senyum Ti Mani di sisa usianya
adalah segalanya.
Berkat
pinjaman uang dari kampus itulah, mangkuk Coto Makassar tersebut akhirnya bisa
saya bawa pulang dan disajikan di hadapan Ibu. Saya menyaksikan beliau
menikmatinya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Itu adalah persembahan
terakhir yang bisa saya berikan untuk menyenangkan hatinya.
Tiga
hari setelah momen tersebut, tepat sebulan sebelum saya maju ke meja hijau
untuk ujian Karya Ilmiah, badai terdalam itu akhirnya runtuh menghantam hidup
kami. Pada tahun 2011 itu, Ti Mani resmi menghembuskan napas terakhirnya.
Beliau berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa.
Dunia
saya runtuh seketika. Air mata saya tumpah di atas tangan Ibu yang sudah
mendingin. Luka terbesar dari kepergiannya adalah kenyataan pahit bahwa Ti Mani
pergi tepat di saat anak bungsunya tinggal selangkah lagi menuntaskan janji
akademik. Namun, hidup harus tetap berjalan lurus ke depan, persis seperti
fondasi bangunan yang kokoh menghadapi gempa. Saya harus menyelesaikan apa yang
telah saya mulai demi kehormatan nama beliau.
Muara Wisuda (2012)
Perjuangan
berlapis di dunia akademis, birokrasi kampus, pengabdian sebagai pendamping
kecamatan, takmirul masjid, dan duka mendalam atas kepergian Ibu, akhirnya
menemui muara indahnya pada tahun 2012. Saya resmi dinyatakan lulus dan
berhak menyandang gelar Diploma III dari Politeknik Gorontalo.
Saya
menyelesaikan ujian Karya Ilmiah dan melangkah ke podium wisuda dengan hati yang
bergemuruh. Walau wisuda itu terasa sunyi tanpa kehadiran fisik Ti Mani, saya
tahu, di atas sana beliau tersenyum menyaksikan anak bungsu yang dulu
dididiknya dengan kalimat "rajin bukan gengsi" kini telah
resmi menjadi seorang sarjana teknik.
Ijazah
tahun 2012 itu adalah prasasti kemenangan atas peluh kuli bangunan, perjuangan
meminjam uang demi semangkuk coto terakhir Ibu, dan langkah awal dari anak desa
Botupingge yang siap mengabdi lebih luas bagi masyarakat.



