Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


BAB 3: Menjinakkan Besi dan Mesin

 

Langkah pertama saya melewati gerbang Politeknik Gorontalo pada tahun 2008 tidak dilakukan dengan dada yang membusung sombong, melainkan dengan rasa syukur yang mengalir tenang. Saya tahu persis, setiap jengkal lantai kampus yang saya pijak adalah hasil dari doa kesembuhan Ti Mani, penebusan kelapa oleh Ti Basi Kona, dan sisa-sisa kapalan di telapak tangan saya sendiri setelah dua tahun menjadi pekerja kasar.


Sebagai mahasiswa baru di jurusan Alat Mesin Pertanian (Mekanisasi Pertanian), masa Orientasi Belajar Kampus (OBK) menjadi medan pembuktian pertama. Di saat mahasiswa lain mengeluh karena tekanan fisik dan mental dari para senior, bagi saya, semua itu tidak ada apa-apanya dibanding panasnya sengat matahari di lokasi proyek atau dinginnya air sungai yang saya seberangi saat menuju SMA dulu. Mental baja yang sudah ditempa sejak kecil membuat saya menjalani setiap tugas OBK dengan tangguh, disiplin, dan tanpa mengeluh.


Hasilnya, di akhir masa orientasi, saya dinobatkan sebagai Raja OBK Tahun 2008. Sebuah pengakuan bahwa anak desa dari Lorong Sukma ini memiliki daya tahan yang berbeda. Kepercayaan dari teman-teman seangkatan langsung mengalir setelah itu; saya dipilih dan dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Tingkat. Darah kepemimpinan Ayah yang terbiasa menjadi pusat komando di lapangan proyek, kini resmi beralih ke dalam diri saya untuk memimpin teman-teman mahasiswa.


Ritme Hidup Dua Dunia: Mahasiswa dan Kuli

Namun, menyandang status sebagai "Raja OBK" dan "Ketua Tingkat" tidak membuat saya lupa daratan, apalagi menjadi tinggi hati. Realitas ekonomi tetap berjalan, dan biaya kuliah serta kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi tanpa harus terus-menerus membebani pundak Ayah yang semakin menua. Di sinilah ritme hidup saya terbelah menjadi dua dunia yang kontras namun saling menguatkan.


Hari Senin sampai Kamis, saya adalah seorang mahasiswa teknik seutuhnya. Kepala saya dipenuhi rumus fisika, diagram mekanika, dan teori kejuruteraan mesin pertanian. Saya duduk di barisan depan, memimpin teman-teman kelas, dan menjinakkan teori-teori besi serta mesin di dalam laboratorium.


Begitu hari Kamis berakhir, saya melepas jaket almamater saya. Hari Jumat, Sabtu, hingga Minggu, saya kembali ke habitat lama: menjadi kuli bangunan.


Tangan yang siangnya memegang jangka dan pena untuk menggambar teknik mesin, di akhir pekan harus kembali memegang sekop, memikul semen, dan mengaduk pasir di bawah terik matahari. Tidak ada rasa gengsi sedikit pun. Bagi saya, membagi waktu antara bangku kuliah dan peluh kuli adalah sebuah seni bertarung yang indah. Nasihat Ti Mani selalu terngiang di telinga, "yang membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi." Justru, status saya sebagai kuli di akhir pekan membuat saya menjadi mahasiswa yang paling menghargai setiap lembar modul kuliah di hari kerja.


Di tengah padatnya jadwal yang menguras fisik dan otak tersebut, saya sadar bahwa hati pun butuh sandaran agar tidak gersang. Saya memutuskan untuk bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Di lingkungan LDK inilah, saya menyiram rohani saya dengan nilai-nilai spiritual, menjaga agar langkah kaki saya tetap lurus, dan memastikan bahwa ambisi intelektual saya sebagai mahasiswa teknik selalu berjalan beriringan dengan ketukan iman di dalam dada.


Melompat ke Angkasa: Makassar dan Teknologi Masa Depan

Ketekunan mengawinkan logika teknik dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jurusan Alat Mesin Pertanian menuntut kami untuk akrab dengan otomatisasi dan mekanisasi tingkat tinggi. Kemampuan berhitung yang dulu pernah membawa saya mewakili SDN Buata di lomba matematika kembali terasah tajam.


Pada tahun 2008 itu juga, saya terpilih untuk mewakili kampus mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) di Makassar. Bukan sekadar bimtek biasa, melainkan pelatihan tingkat lanjut yang sangat bergengsi terkait persiapan lomba Robotika dan Roket. Sebuah lompatan teknologi yang luar biasa bagi seorang anak yang masa kecilnya dihabiskan di dalam Lorong Sukma.


Momen keberangkatan menuju Makassar itu mencetak sebuah sejarah baru yang teramat sakral dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, si anak bungsu tukang bangunan ini melangkah masuk ke dalam bandara dan naik pesawat terbang.


Saat burung besi itu mulai bergerak cepat menyusuri landasan pacu dan perlahan mengangkat tubuhnya membelah awan Gorontalo, dada saya bergemuruh hebat. Dari balik jendela pesawat, saya melihat daratan di bawah yang perlahan mengecil. Saya teringat sepeda tua yang saya kayuh belasan kilometer ke MTs Al-Huda. Saya teringat perahu kayu Ka Imin yang bergoyang ditiup arus sungai menuju SMA Kabila. Dan kini, saya berada ribuan kaki di atas permukaan laut, terbang menuju pusat peradaban teknologi di Sulawesi Selatan.


Di dalam kabin pesawat itu, saya membatin dengan mata berkaca-cave: Ti Aba, Ti Mani... anak bungsumu yang dulu menjinjing wadah popolulu, hari ini terbang naik pesawat karena ilmu pengetahuan. Perjalanan ke Makassar bukan sekadar tentang belajar merakit robot atau menghitung daya luncur roket, melainkan sebuah penegasan dari Tuhan bahwa tidak ada dinding pembatas yang terlalu tinggi bagi anak seorang kuli, selama ia merawat mimpinya dengan kerja keras dan doa yang tak pernah putus.


Membumi di Akar Rumput: Melahirkan Desa Sukma dan Menjaga Rumah Tuhan

Persentuhan dengan teknologi tingkat tinggi di Makassar tidak lantas membuat saya menjadi mahasiswa yang menara gading. Sebaliknya, hati saya justru semakin terpanggil untuk melihat realitas di tanah kelahiran. Pada tahun 2009, sembari mengurus himpunan sebagai Ketua HMJ Alat Mesin Pertanian, saya memutuskan untuk menaruh satu kaki saya di dunia pengabdian masyarakat. Saya resmi bergabung sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) untuk program PNPM Mandiri Perdesaan.


Tahun 2009 itu juga menjadi tonggak sejarah yang paling emosional bagi tanah kelahiran saya. Semangat perubahan membakar dada warga di tempat saya tumbuh. Kami mendeklarasikan diri untuk berpisah, memekarkan diri dari rahim Desa Luwohu, Buata, Tumbihe, dan Oluhuta. Lorong Sukma yang dulu sunyi, tempat Ayah mencangkul dan Ibu menggoreng kue subuh hari, resmi bertransformasi menorehkan takdir barunya: Desa Sukma. Menjadi bagian dari generasi yang menyaksikan lahirnya sebuah desa baru menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar di dalam dada saya.


Kapasitas kerja dan kepemimpinan saya di akar rumput desa yang baru mekar ini rupanya dinilai matang dengan cepat oleh para tetua dan warga. Setahun kemudian, pada tahun 2010, di saat energi saya terkuras di kampus, warga Desa Sukma justru mempercayakan amanah rohani yang teramat sakral ke pundak muda saya. Saya didaulat menjadi Ketua Takmirul Masjid Al-Makmur Desa Sukma.


Amanah menjaga rumah Tuhan di desa baru ini melengkapi peran saya yang di tahun 2010 itu juga dinaikkan kelasnya menjadi Pendamping Lokal Kecamatan.


Tahun 2010 itu menjadi tahun yang luar biasa gila sekaligus indah dalam hidup saya. Di satu sisi, melalui proses demokrasi kampus yang dinamis, saya terpilih dan resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa Pertama Politeknik Gorontalo. Di sisi lain, saya adalah seorang Pendamping Lokal Kecamatan yang harus mengawal program pemberdayaan, sekaligus seorang Ketua Takmirul Masjid yang bertanggung jawab atas syiar dan kenyamanan ibadah warga di Desa Sukma.


Ritme hidup saya benar-benar menguras energi: pagi hari mengenakan jas almamater memimpin jalannya konstitusi BEM dan berhadapan dengan birokrasi rektorat, sore hari menyusuri jalanan desa mengawal hak-hak warga kecamatan, malam hari memastikan lampu-lampu Masjid Al-Makmur tetap menyala dan saf-saf jamaah tetap terjaga, dan begitu akhir pekan tiba, dari hari Jumat hingga Minggu, saya kembali melepas semua atribut mentereng itu untuk memeras keringat menjadi kuli bangunan demi menyambung biaya hidup. Di atas perancah bambu, di bawah terik matahari, saya merenungkan takdir hidup saya yang bergerak di berbagai dunia sekaligus.


Saat berdiri di podium pelantikan Presiden Mahasiswa, tatapan ratusan pasang mata tertuju pada saya. Di hadapan forum yang terhormat itu, yang berdiri bukanlah anak muda dari kalangan elit, melainkan anak bungsu dari seorang buruh bangunan yang telapak tangannya kasar, Ketua Takmirul Masjid dari sebuah desa yang baru mekar, yang di dompet ingatan selalu tersimpan kalimat Ti Mani: “yang akan membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi.”


Dari Botupingge Menuju Senayan (2011)

Tahun 2011 menjadi tahun di mana kepemimpinan saya diuji di tingkat nasional. Langkah anak desa dari Botupingge ini melangkah jauh melintasi samudra menuju ibu kota negara, Jakarta. Sebagai Presiden Mahasiswa, saya bertolak untuk menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) HPMIG.


Puncak dari perjalanan itu adalah ketika saya melangkah masuk ke dalam kompleks parlemen, Gedung MPR/DPR RI di Senayan. Tempat di mana keputusan-keputusan besar negara ini digodok. Berdiri di bawah kemegahan atap hijau Senayan, berdiskusi dengan tokoh-tokoh nasional dan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air, membuat saya sadar betapa jauhnya takdir telah membawa saya berjalan. Dari debu jalanan Botupingge, melintasi sungai dengan perahu kayu, kini anak kuli bangunan ini duduk di kursi parlemen Senayan membawa nama besar Gorontalo.


Kenyataan Pahit di Garis Akhir: Perjuangan Magang dan Air Mata untuk Ti Mani

Namun, hidup selalu tahu cara membumikan kembali hati manusia. Di saat nama saya berada di puncak aktivitas organisasi tingkat nasional, di rumah, sebuah mendung tebal mulai bergelayut. Ti Mani mulai jatuh sakit parah. Penyakit gula (diabetes) mulai menggerogoti tubuh teduh yang dulu setiap subuh menggoreng popolulu untuk kami. Ibu membutuhkan perawatan penuh, dan konsistensi saya kembali terbelah hebat.


Kondisi keuangan kami kembali diuji pada titik paling kritis saat saya harus menyelesaikan kewajiban akademik terakhir: magang kuliah. Di kantong saya tidak ada dana sepeser pun untuk membiayai operasional magang. Menepis segala status ego sebagai Presiden Mahasiswa atau Pendamping Kecamatan, saya turun ke lapangan mengambil pekerjaan apa saja yang halal.


Saat itu, ada sebuah acara yang digelar oleh Walikota. Saya mengambil peluang menjadi juru catat massa yang hadir pada acara walikota tersebut. Berdiri seharian, mencatat lembar demi lembar nama warga yang datang, demi upah yang tidak seberapa. Namun dari lembaran rupiah hasil mencatat massa itulah, biaya magang saya akhirnya tertutupi.


Sepulang dari magang, kondisi Ti Mani semakin memburuk. Ibu sudah tidak boleh bangun lagi dari tempat tidurnya. Tubuh tangguh yang dulu berdiri mendampingi Ti Basi Kona kini terbujur lemah, hanya matanya yang menatap saya dengan pandangan penuh kasih sayang yang tak pernah luntur.


Tiga hari sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya, sebuah momen getir terjadi dan akan selalu terpatri di dalam sanubari saya seumur hidup. Dengan suara yang teramat lirih dari atas ranjang sakitnya, Ti Mani meminta sesuatu kepada saya. Beliau ingin sekali makan Coto Makassar.


Mendengar permintaan sederhana dari Ibu yang sedang sekarat itu, dada saya terasa seperti dihantam godam yang teramat besar. Kenyataan pahit menampar saya seketika: saat itu, saya tidak memiliki uang sepeser pun di dalam kantong.


Melihat kondisi Ibu, tidak ada waktu untuk meratapi keadaan atau mengasihani diri sendiri. Saya membuang jauh-jauh seluruh ego dan status mentereng saya sebagai Presiden Mahasiswa. Tanpa berpikir panjang, saya berlari sekuat tenaga menuju kampus Politeknik Gorontalo. Di sepanjang jalan pikiran saya kalut, air mata menetes, dan satu-satunya tujuan saya saat itu adalah menemui siapa saja di kampus yang bisa meminjamkan dana darurat. Saya tidak peduli lagi akan dianggap apa oleh orang-orang kampus; bagi saya saat itu, senyum Ti Mani di sisa usianya adalah segalanya.


Berkat pinjaman uang dari kampus itulah, mangkuk Coto Makassar tersebut akhirnya bisa saya bawa pulang dan disajikan di hadapan Ibu. Saya menyaksikan beliau menikmatinya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Itu adalah persembahan terakhir yang bisa saya berikan untuk menyenangkan hatinya.


Tiga hari setelah momen tersebut, tepat sebulan sebelum saya maju ke meja hijau untuk ujian Karya Ilmiah, badai terdalam itu akhirnya runtuh menghantam hidup kami. Pada tahun 2011 itu, Ti Mani resmi menghembuskan napas terakhirnya. Beliau berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa.


Dunia saya runtuh seketika. Air mata saya tumpah di atas tangan Ibu yang sudah mendingin. Luka terbesar dari kepergiannya adalah kenyataan pahit bahwa Ti Mani pergi tepat di saat anak bungsunya tinggal selangkah lagi menuntaskan janji akademik. Namun, hidup harus tetap berjalan lurus ke depan, persis seperti fondasi bangunan yang kokoh menghadapi gempa. Saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai demi kehormatan nama beliau.

Muara Wisuda (2012)

Perjuangan berlapis di dunia akademis, birokrasi kampus, pengabdian sebagai pendamping kecamatan, takmirul masjid, dan duka mendalam atas kepergian Ibu, akhirnya menemui muara indahnya pada tahun 2012. Saya resmi dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Diploma III dari Politeknik Gorontalo.


Saya menyelesaikan ujian Karya Ilmiah dan melangkah ke podium wisuda dengan hati yang bergemuruh. Walau wisuda itu terasa sunyi tanpa kehadiran fisik Ti Mani, saya tahu, di atas sana beliau tersenyum menyaksikan anak bungsu yang dulu dididiknya dengan kalimat "rajin bukan gengsi" kini telah resmi menjadi seorang sarjana teknik.


Ijazah tahun 2012 itu adalah prasasti kemenangan atas peluh kuli bangunan, perjuangan meminjam uang demi semangkuk coto terakhir Ibu, dan langkah awal dari anak desa Botupingge yang siap mengabdi lebih luas bagi masyarakat.