Jika
masa kecil saya di Lorong Sukma dipenuhi dengan pemandangan Ayah yang menyusun
bata demi bata dengan semen, maka masa-masa sekolah adalah waktu di mana saya
harus mulai menyusun "bata-bata" pengetahuan saya sendiri.
Setiap
kali tahun ajaran baru tiba, saya tahu betul ada beban berat yang harus dipikul
oleh orang tua saya. Bagi seorang buruh bangunan, biaya seragam, buku, dan uang
sekolah bukanlah angka yang kecil. Namun, ingatan saya selalu kembali pada
titipan jualan subuh hari dan kalimat hangat dari Ti Mani, "Jangan malu
mo cari doi uti, karena yang akan membuat kalian besar adalah rajin bukan
gengsi." Nasihat itulah yang menjadi tameng sekaligus bahan bakar
utama saya ketika melangkah masuk ke gerbang sekolah dasar kami: SDN Buata.
Di
bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Suleman Bau—atau yang kami sapa
akrab dengan sebutan Pak Guru Moo (almarhum)—saya memulai petualangan
menyusun bata pengetahuan tersebut. Di SDN Buata inilah, pembuktian diletakkan.
Saya ingin menunjukkan bahwa anak seorang tukang bangunan dan penjual kue
keliling tidak boleh kalah dalam hal isi kepala.
Sejak
kelas 1, di bawah bimbingan Wali Kelas Ibu Hadjira Bau (Ibu Hajira),
saya langsung tancap gas. Pada Caturwulan 1 saya berhasil menduduki ranking 4,
dan pada caturwulan-caturwulan berikutnya, posisi itu melompat mantap ke
ranking 1. Dominasi itu berlanjut saat naik ke kelas 2-B, di mana Ibu Hajira
kembali menjadi wali kelas saya; ranking 1 berhasil saya pertahankan penuh
selama 3 caturwulan berturut-turut.
Darah
ketelitian dan fokus dari Ti Basi Kona tampaknya mulai termanifestasi dalam
kemampuan berhitung dan logika saya. Saat duduk di kelas 3 bersama Wali Kelas Bapak
Salim Djambura yang populer disapa Pak Guru Deko, bangku ranking 1
tetap menjadi milik si bungsu dari Lorong Sukma ini selama 3 caturwulan penuh.
Namun,
roda hidup tidak selalu berada di atas. Di kelas 4, saat dibimbing oleh Ibu
Dewi Lukum (Ibu Dewi), fokus saya sempat drop. Grafik prestasi saya
menurun hingga harus puas di ranking 4. Momen itu menjadi tamparan keras
sekaligus pengingat bagi saya tentang peluh Ayah di lapangan proyek. Fondasi
tidak boleh rapuh. Saya harus bangkit.
Pelajaran
berharga di kelas 4 itu membayar tuntas pada tahun-tahun berikutnya. Di kelas 5
bersama Wali Kelas Ibu Asna Isa (Ibu Asi), saya kembali merebut takhta
ranking 1 selama 3 caturwulan. Konsistensi itu saya kunci hingga kelas 6 di
bawah bimbingan Wali Kelas Ibu Rapi D. Karim (Ibu Rapi), di mana ranking
1 tidak pernah bergeser dari genggaman. Puncak pembuktian di masa sekolah dasar
itu terjadi ketika saya duduk di kelas 6. Berkat bimbingan guru-guru hebat di
SDN Buata, saya dipercaya untuk mewakili sekolah mengikuti Lomba Matematika
tingkat Kecamatan.
Benturan Realitas di Gerbang Baru (2000–2003)
Namun,
panggung kecil di SDN Buata segera berganti dengan samudra yang jauh lebih luas
dan berombak pasang. Pada tahun 2000, saya resmi melangkah masuk ke MTs
Al-Huda. Sebagai anak desa yang terbiasa dengan ritme hidup Luwohu,
menginjakkan kaki di madrasah ini memberikan kejutan budaya dan mental yang
luar biasa.
Perjuangan
untuk menuntut ilmu di madrasah ini bukan hanya soal menguras otak di dalam
kelas, melainkan juga sebuah ujian fisik yang menguras keringat setiap harinya.
Sekolah itu terletak di pusat kota, tepatnya di Jalan Imam Bonjol. Jaraknya
hampir 10 kilometer dari rumah kami di Botupingge. Di saat anak-anak kota
mendarat dengan kendaraan yang nyaman, saya harus mengandalkan kekuatan dua
kaki saya.
Selama
dua tahun penuh, sepeda tua menjadi sahabat setia yang menemani perjalanan
saya. Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, saya sudah harus mengayuh
pedal sepeda membelah jalanan dari Botupingge menuju pusat kota. Menempuh jarak
sejauh itu pergi-pulang setiap hari di bawah sengat matahari Gorontalo yang
membakar atau di bawah guyuran hujan lebat, benar-benar menempa otot dan mental
saya. Betis yang lelah dan napas yang terengah-engah adalah harga yang harus
saya bayar demi sebuah draf masa depan yang lebih baik.
Ketika
tiba di sekolah, saya ditempatkan di kelas 1-C. Di sanalah benturan realitas
berikutnya terjadi. Pada caturwulan pertama, saya seperti kehilangan arah.
Status sebagai mantan juara kelas dan utusan lomba matematika dari desa seolah
luruh tak berbekas. Di kelas 1-C itu, saya harus berhadapan dengan anak-anak
kota yang bicaranya lebih lantang, serta murid-murid dari luar daerah Gorontalo
yang datang dengan modal fasilitas yang jauh lebih mapan.
Untuk
pertama kalinya dalam sejarah sekolah saya, si anak bungsu dari Lorong Sukma
ini merasakan apa itu kalah bersaing. Caturwulan satu di MTs Al-Huda menjadi
lembaran yang kelam bagi ego saya. Ada rasa minder yang sempat menyelinap
ketika melihat cara belajar dan rasa percaya diri anak-anak kota tersebut. Saya
tersadar, dunia ternyata jauh lebih luas dari Lorong Sukma.
Namun,
rasa lelah setelah mengayuh sepeda belasan kilometer dan kekalahan di
caturwulan pertama tidak membuat saya larut dalam kesedihan terlalu lama. Saya
segera menyeka air muka, mengingat kembali mental baja yang diajarkan di rumah.
Setiap kali kayuhan sepeda terasa berat, saya ingat peluh Ti Basi Kona di
lapangan proyek dan baki kue Ti Mani. Kalau anak-anak kota itu bisa maju karena
fasilitas, maka saya harus maju karena kepatuhan pada proses dan ketekunan yang
berlipat ganda. Saya mulai membongkar strategi belajar, mengamati cara bersaing
mereka, dan memperkeras cambuk kedisiplinan dalam diri sendiri.
Hasilnya
langsung terlihat di caturwulan-caturwulan selanjutnya. Perlahan namun pasti,
anak desa yang datang dengan sepeda tua ini mulai merayap naik, memotong
dominasi satu per satu murid-murid dari kota dan luar daerah tersebut. Saya
berhasil mengunci posisi di papan atas sebagai langganan juara 4 hingga ranking
6 besar. Berada di posisi itu di tengah ekosistem MTs Al-Huda yang sangat kompetitif
melahirkan kepuasan dan kepercayaan diri yang baru hingga akhirnya hari
kelulusan tiba pada tahun 2003.
Menyeberang Arus, Menembus Batas (2003)
Lulus
dari MTs Al-Huda pada tahun 2003, sebenarnya hati kecil saya sangat ingin
melanjutkan sekolah ke SMEA Gorontalo. Saya tertarik dengan dunia
ekonomi dan administrasi. Namun, garis hidup keluarga kami saat itu sedang
berada di fase ujian keuangan yang ketat. Kakak saya, Kak Roy, sedang menempuh
bangku kuliah yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Sebagai anak bungsu, saya
harus melipat ego saya. Ayah dan Ibu harus membagi lembaran rupiah dengan
sangat cermat. Akhirnya, diputuskanlah saya bersekolah di SMA Kabila—sebuah
pilihan yang paling realistis dan hemat ongkos pada saat itu, walau alam
menyodorkan tantangannya sendiri.
Untuk
sampai ke sekolah, tidak ada jalur darat yang praktis. Satu-satunya urat nadi
perjalanan kami adalah menyeberangi sungai yang memisahkan wilayah kami dengan
Kabila. Di tepian sungai itulah, takdir kami setiap pagi digantungkan pada
bilah-bilah papan perahu penyeberangan milik warga lokal yang legendaris: Ka
Imin, Ka Heri, dan Ka Wani.
Setiap
pagi, suasana di dermaga penyeberangan selalu riuh dan menegangkan. Ratusan
siswa dari Botupingge berkumpul, berdesakan, dan berebut untuk mendapatkan
tempat di atas perahu. Ada kecemasan jika tertinggal perahu berarti terlambat
masuk sekolah, namun ada pula keberanian yang harus ditebalkan saat melihat
arus sungai di bawah kami. Di atas perahu kayu yang bergoyang ritmis membelah
riak air sungai, kami berdiri bersama cita-cita kami. Ka Imin, Ka Heri, dan Ka
Wani bukan sekadar menarik ongkos penyeberangan; bagi kami, mereka adalah para
pengantar mimpi yang menjembatani anak-anak desa menembus keterbatasan. Setelah
turun dari perahu, kami masih harus berjalan kaki menyusuri jalanan sejauh 2
kilometer untuk benar-benar sampai di depan gerbang SMA Kabila.
Kembali ke Akar: Mondok di Sabrun Jamil
Namun,
garis takdir saya di SMA Kabila ternyata hanya bertahan satu tahun. Menginjak
kelas dua, sebuah panggilan spiritual dan kerinduan pada lingkungan madrasah
kembali mengetuk hati saya. Saya memutuskan untuk mengambil langkah besar:
keluar dari SMA Kabila dan kembali ke dunia pesantren.
Kali
ini, saya tidak lagi pergi pulang. Saya resmi masuk dan memilih untuk mondok di
Pesantren Sabrun Jamil.
Secara
geografis, letak pesantren itu sebenarnya sangat dekat dari rumah kami di
Lorong Sukma—hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Begitu dekatnya, hingga
terkadang sayup-sayup suara dari kampung halaman masih bisa terdengar. Namun,
secara aturan, jarak ratusan meter itu terasa seperti pembatas benua. Aturan
pesantren sangat ketat dan tidak mengenal pengecualian: saya tidak
diperbolehkan pulang ke rumah. Saya wajib menetap di asrama, tidur di sana, dan
makan makanan dapur umum yang disediakan di dalam pondok.
Bagi
seorang anak bungsu yang terbiasa dekat dengan Ti Mani dan Ti Basi Kona, ini
adalah ujian mental yang sesungguhnya. Berada begitu dekat dengan rumah namun
dipaksa untuk menahan rindu dan mengisolasi diri demi ilmu, benar-benar
menggembleng ego saya. Jauh dari pelukan orang tua, saya harus mengurus segala
keperluan sendiri—mulai dari mencuci pakaian, antre makanan, hingga mengatur
waktu belajar yang padat antara kitab kuning dan pelajaran umum. Di balik
dinding-dinding Pesantren Sabrun Jamil, saya tidak hanya menumpuk hafalan dan
ilmu agama, tetapi juga memperkokoh tiang-tiang karakter saya hingga akhirnya
tahun 2006 tiba.
Ujian Terberat, Jalan Paket C, dan Menjadi Kuli Bangunan
(2006–2008)
Tahun
2006 yang saya harap menjadi gerbang kemenangan, ternyata menyodorkan tikungan
paling tajam dan menyakitkan. Saat pengumuman kelulusan keluar, dunia saya
runtuh seketika. Saya dinyatakan gagal lulus Ujian Sekolah.
Rasa
syok, malu, dan hancur berkecamuk menjadi satu. Bagaimana mungkin si anak
bungsu yang dulu langganan ranking 1 di SDN Buata dan pernah mewakili lomba
Matematika harus menerima kenyataan pahit ini? Kenyataannya teramat kejam; dari
seluruh siswa di kelas kami, hanya dua orang saja yang dinyatakan lulus.
Selebihnya, termasuk saya, dipaksa menelan pil pahit kegagalan.
Namun,
di titik nadir itulah fondasi mental anak tukang bangunan diuji. Tanpa
memedulikan gengsi, sesuai dengan nasihat Ibu, saya mengambil satu-satunya
jalur alternatif yang tersisa demi menyambung impian: Ujian Kesetaraan Paket
C. Saya belajar lebih keras, menepis segala cibiran, dan menyelesaikan
ujian tersebut dengan satu tekad: saya harus tetap maju.
Lembaran
hitam tahun 2006 itu berhasil saya lewati lewat ujian kesetaraan Paket C.
Namun, ijazah di tangan tidak serta-merta membukakan gerbang ruang kuliah.
Keadaan ekonomi keluarga menuntut saya untuk menunda impian akademik itu
terlebih dahulu. Selama dua tahun penuh setelah lulus (2006–2008), saya resmi
turun ke lapangan, bekerja kasar sebagai seorang kuli bangunan.
Roda
hidup berputar dengan cara yang sangat puitis. Anak bungsu yang dulu hanya
menonton dari jauh peluh Ti Basi Kona di lokasi proyek, kini berdiri di
tempat yang sama, memegang sekop yang sama, dan mencium aroma semen basah yang
sama sebagai pekerja. Selama dua tahun itu, tangan saya memikul beban batako,
mengaduk pasir di bawah sengat matahari, dan menaikkan dinding-dinding rumah
orang lain.
Saya
tidak pernah malu menjadi kuli, karena dari setiap rupiah hasil mengangkat
semen itulah saya mempraktikkan langsung nasihat Ti Mani: "yang membuat
kalian besar adalah rajin bukan gengsi." Dua tahun menjadi kuli
bangunan adalah universitas kehidupan yang membentuk saya menjadi manusia yang
tahan banting.
Ujian Terakhir di Garis Start (2008)
Hingga
akhirnya pada tahun 2008, waktu yang dinanti itu tiba. Berbekal mental kuli
yang tebal dan uang tabungan dari keringat sendiri, saya resmi mendaftarkan
diri ke Politeknik Gorontalo, mengambil jurusan Alat Mesin Pertanian
(Mekanisasi Pertanian).
Namun,
tepat di saat saya sedang mengikuti ujian masuk kuliah, takdir kembali menguji
urat saraf kami. Ibu tercinta, Ti Mani, jatuh sakit dan harus dilarikan ke
rumah sakit selama satu minggu penuh.
Fokus
saya seketika terbelah antara lembar soal ujian masuk kampus dan kecemasan akan
kondisi Ibu yang terbaring lemah. Demi kesembuhan Ti Mani, tanpa berpikir dua
kali, seluruh uang tabungan yang saya kumpulkan dengan susah payah dari hasil
memeras keringat menjadi kuli bangunan selama dua tahun—yang sedianya digunakan
untuk biaya daftar ulang kuliah—akhirnya habis terkuras tak bersisa untuk biaya
perawatan.
Saya
berdiri di lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Ibu mulai membaik,
namun impian kuliah yang sudah berada di depan mata seolah kembali menguap
karena saya tidak punya uang lagi untuk membayar daftar ulang.
Di titik kritis itulah, ketangguhan seorang Ti Basi Kona kembali menyelamatkan mimpi saya. Melihat anak bungsunya nyaris patah arang, Ayah mengambil sebuah keputusan besar. Kelapa di kebun yang dulu pernah dijaminkan orang lain kepada beliau karena suatu urusan, diputuskan untuk ditebus dan dilepas hari itu juga demi mendapatkan modal darurat. Beliau meruntuhkan aset yang dimilikinya demi menegakkan kembali fondasi masa depan anaknya
.
Berkat
ketangguhan dan pengorbanan Ti Basi Kona, lembaran rupiah untuk daftar ulang
itu akhirnya berhasil terkumpul kembali. Pintu gerbang Politeknik Gorontalo
yang nyaris tertutup rapat, akhirnya terbuka lebar bagi saya.
Saya
resmi melangkah masuk ke dalam dunia kampus bukan lagi sebagai mahasiswa biasa;
saya adalah anak bungsu dari Lorong Sukma yang melangkah dengan modal doa
kesembuhan dari Ti Mani, peluh dari dua tahun menjadi kuli bangunan, dan
pengorbanan kelapa dari Ti Basi Kona. Di pundak saya, ada amanah besar yang
harus saya bayar tuntas lewat prestasi.



