Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


BAB 2: Menyusun Bata Pengetahuan

 

Jika masa kecil saya di Lorong Sukma dipenuhi dengan pemandangan Ayah yang menyusun bata demi bata dengan semen, maka masa-masa sekolah adalah waktu di mana saya harus mulai menyusun "bata-bata" pengetahuan saya sendiri.


Setiap kali tahun ajaran baru tiba, saya tahu betul ada beban berat yang harus dipikul oleh orang tua saya. Bagi seorang buruh bangunan, biaya seragam, buku, dan uang sekolah bukanlah angka yang kecil. Namun, ingatan saya selalu kembali pada titipan jualan subuh hari dan kalimat hangat dari Ti Mani, "Jangan malu mo cari doi uti, karena yang akan membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi." Nasihat itulah yang menjadi tameng sekaligus bahan bakar utama saya ketika melangkah masuk ke gerbang sekolah dasar kami: SDN Buata.


Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Suleman Bau—atau yang kami sapa akrab dengan sebutan Pak Guru Moo (almarhum)—saya memulai petualangan menyusun bata pengetahuan tersebut. Di SDN Buata inilah, pembuktian diletakkan. Saya ingin menunjukkan bahwa anak seorang tukang bangunan dan penjual kue keliling tidak boleh kalah dalam hal isi kepala.


Sejak kelas 1, di bawah bimbingan Wali Kelas Ibu Hadjira Bau (Ibu Hajira), saya langsung tancap gas. Pada Caturwulan 1 saya berhasil menduduki ranking 4, dan pada caturwulan-caturwulan berikutnya, posisi itu melompat mantap ke ranking 1. Dominasi itu berlanjut saat naik ke kelas 2-B, di mana Ibu Hajira kembali menjadi wali kelas saya; ranking 1 berhasil saya pertahankan penuh selama 3 caturwulan berturut-turut.


Darah ketelitian dan fokus dari Ti Basi Kona tampaknya mulai termanifestasi dalam kemampuan berhitung dan logika saya. Saat duduk di kelas 3 bersama Wali Kelas Bapak Salim Djambura yang populer disapa Pak Guru Deko, bangku ranking 1 tetap menjadi milik si bungsu dari Lorong Sukma ini selama 3 caturwulan penuh.


Namun, roda hidup tidak selalu berada di atas. Di kelas 4, saat dibimbing oleh Ibu Dewi Lukum (Ibu Dewi), fokus saya sempat drop. Grafik prestasi saya menurun hingga harus puas di ranking 4. Momen itu menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi saya tentang peluh Ayah di lapangan proyek. Fondasi tidak boleh rapuh. Saya harus bangkit.


Pelajaran berharga di kelas 4 itu membayar tuntas pada tahun-tahun berikutnya. Di kelas 5 bersama Wali Kelas Ibu Asna Isa (Ibu Asi), saya kembali merebut takhta ranking 1 selama 3 caturwulan. Konsistensi itu saya kunci hingga kelas 6 di bawah bimbingan Wali Kelas Ibu Rapi D. Karim (Ibu Rapi), di mana ranking 1 tidak pernah bergeser dari genggaman. Puncak pembuktian di masa sekolah dasar itu terjadi ketika saya duduk di kelas 6. Berkat bimbingan guru-guru hebat di SDN Buata, saya dipercaya untuk mewakili sekolah mengikuti Lomba Matematika tingkat Kecamatan.


Benturan Realitas di Gerbang Baru (2000–2003)

Namun, panggung kecil di SDN Buata segera berganti dengan samudra yang jauh lebih luas dan berombak pasang. Pada tahun 2000, saya resmi melangkah masuk ke MTs Al-Huda. Sebagai anak desa yang terbiasa dengan ritme hidup Luwohu, menginjakkan kaki di madrasah ini memberikan kejutan budaya dan mental yang luar biasa.


Perjuangan untuk menuntut ilmu di madrasah ini bukan hanya soal menguras otak di dalam kelas, melainkan juga sebuah ujian fisik yang menguras keringat setiap harinya. Sekolah itu terletak di pusat kota, tepatnya di Jalan Imam Bonjol. Jaraknya hampir 10 kilometer dari rumah kami di Botupingge. Di saat anak-anak kota mendarat dengan kendaraan yang nyaman, saya harus mengandalkan kekuatan dua kaki saya.


Selama dua tahun penuh, sepeda tua menjadi sahabat setia yang menemani perjalanan saya. Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, saya sudah harus mengayuh pedal sepeda membelah jalanan dari Botupingge menuju pusat kota. Menempuh jarak sejauh itu pergi-pulang setiap hari di bawah sengat matahari Gorontalo yang membakar atau di bawah guyuran hujan lebat, benar-benar menempa otot dan mental saya. Betis yang lelah dan napas yang terengah-engah adalah harga yang harus saya bayar demi sebuah draf masa depan yang lebih baik.


Ketika tiba di sekolah, saya ditempatkan di kelas 1-C. Di sanalah benturan realitas berikutnya terjadi. Pada caturwulan pertama, saya seperti kehilangan arah. Status sebagai mantan juara kelas dan utusan lomba matematika dari desa seolah luruh tak berbekas. Di kelas 1-C itu, saya harus berhadapan dengan anak-anak kota yang bicaranya lebih lantang, serta murid-murid dari luar daerah Gorontalo yang datang dengan modal fasilitas yang jauh lebih mapan.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah saya, si anak bungsu dari Lorong Sukma ini merasakan apa itu kalah bersaing. Caturwulan satu di MTs Al-Huda menjadi lembaran yang kelam bagi ego saya. Ada rasa minder yang sempat menyelinap ketika melihat cara belajar dan rasa percaya diri anak-anak kota tersebut. Saya tersadar, dunia ternyata jauh lebih luas dari Lorong Sukma.


Namun, rasa lelah setelah mengayuh sepeda belasan kilometer dan kekalahan di caturwulan pertama tidak membuat saya larut dalam kesedihan terlalu lama. Saya segera menyeka air muka, mengingat kembali mental baja yang diajarkan di rumah. Setiap kali kayuhan sepeda terasa berat, saya ingat peluh Ti Basi Kona di lapangan proyek dan baki kue Ti Mani. Kalau anak-anak kota itu bisa maju karena fasilitas, maka saya harus maju karena kepatuhan pada proses dan ketekunan yang berlipat ganda. Saya mulai membongkar strategi belajar, mengamati cara bersaing mereka, dan memperkeras cambuk kedisiplinan dalam diri sendiri.


Hasilnya langsung terlihat di caturwulan-caturwulan selanjutnya. Perlahan namun pasti, anak desa yang datang dengan sepeda tua ini mulai merayap naik, memotong dominasi satu per satu murid-murid dari kota dan luar daerah tersebut. Saya berhasil mengunci posisi di papan atas sebagai langganan juara 4 hingga ranking 6 besar. Berada di posisi itu di tengah ekosistem MTs Al-Huda yang sangat kompetitif melahirkan kepuasan dan kepercayaan diri yang baru hingga akhirnya hari kelulusan tiba pada tahun 2003.


Menyeberang Arus, Menembus Batas (2003)

Lulus dari MTs Al-Huda pada tahun 2003, sebenarnya hati kecil saya sangat ingin melanjutkan sekolah ke SMEA Gorontalo. Saya tertarik dengan dunia ekonomi dan administrasi. Namun, garis hidup keluarga kami saat itu sedang berada di fase ujian keuangan yang ketat. Kakak saya, Kak Roy, sedang menempuh bangku kuliah yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Sebagai anak bungsu, saya harus melipat ego saya. Ayah dan Ibu harus membagi lembaran rupiah dengan sangat cermat. Akhirnya, diputuskanlah saya bersekolah di SMA Kabila—sebuah pilihan yang paling realistis dan hemat ongkos pada saat itu, walau alam menyodorkan tantangannya sendiri.


Untuk sampai ke sekolah, tidak ada jalur darat yang praktis. Satu-satunya urat nadi perjalanan kami adalah menyeberangi sungai yang memisahkan wilayah kami dengan Kabila. Di tepian sungai itulah, takdir kami setiap pagi digantungkan pada bilah-bilah papan perahu penyeberangan milik warga lokal yang legendaris: Ka Imin, Ka Heri, dan Ka Wani.


Setiap pagi, suasana di dermaga penyeberangan selalu riuh dan menegangkan. Ratusan siswa dari Botupingge berkumpul, berdesakan, dan berebut untuk mendapatkan tempat di atas perahu. Ada kecemasan jika tertinggal perahu berarti terlambat masuk sekolah, namun ada pula keberanian yang harus ditebalkan saat melihat arus sungai di bawah kami. Di atas perahu kayu yang bergoyang ritmis membelah riak air sungai, kami berdiri bersama cita-cita kami. Ka Imin, Ka Heri, dan Ka Wani bukan sekadar menarik ongkos penyeberangan; bagi kami, mereka adalah para pengantar mimpi yang menjembatani anak-anak desa menembus keterbatasan. Setelah turun dari perahu, kami masih harus berjalan kaki menyusuri jalanan sejauh 2 kilometer untuk benar-benar sampai di depan gerbang SMA Kabila.


Kembali ke Akar: Mondok di Sabrun Jamil

Namun, garis takdir saya di SMA Kabila ternyata hanya bertahan satu tahun. Menginjak kelas dua, sebuah panggilan spiritual dan kerinduan pada lingkungan madrasah kembali mengetuk hati saya. Saya memutuskan untuk mengambil langkah besar: keluar dari SMA Kabila dan kembali ke dunia pesantren.


Kali ini, saya tidak lagi pergi pulang. Saya resmi masuk dan memilih untuk mondok di Pesantren Sabrun Jamil.


Secara geografis, letak pesantren itu sebenarnya sangat dekat dari rumah kami di Lorong Sukma—hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Begitu dekatnya, hingga terkadang sayup-sayup suara dari kampung halaman masih bisa terdengar. Namun, secara aturan, jarak ratusan meter itu terasa seperti pembatas benua. Aturan pesantren sangat ketat dan tidak mengenal pengecualian: saya tidak diperbolehkan pulang ke rumah. Saya wajib menetap di asrama, tidur di sana, dan makan makanan dapur umum yang disediakan di dalam pondok.


Bagi seorang anak bungsu yang terbiasa dekat dengan Ti Mani dan Ti Basi Kona, ini adalah ujian mental yang sesungguhnya. Berada begitu dekat dengan rumah namun dipaksa untuk menahan rindu dan mengisolasi diri demi ilmu, benar-benar menggembleng ego saya. Jauh dari pelukan orang tua, saya harus mengurus segala keperluan sendiri—mulai dari mencuci pakaian, antre makanan, hingga mengatur waktu belajar yang padat antara kitab kuning dan pelajaran umum. Di balik dinding-dinding Pesantren Sabrun Jamil, saya tidak hanya menumpuk hafalan dan ilmu agama, tetapi juga memperkokoh tiang-tiang karakter saya hingga akhirnya tahun 2006 tiba.


Ujian Terberat, Jalan Paket C, dan Menjadi Kuli Bangunan (2006–2008)

Tahun 2006 yang saya harap menjadi gerbang kemenangan, ternyata menyodorkan tikungan paling tajam dan menyakitkan. Saat pengumuman kelulusan keluar, dunia saya runtuh seketika. Saya dinyatakan gagal lulus Ujian Sekolah.


Rasa syok, malu, dan hancur berkecamuk menjadi satu. Bagaimana mungkin si anak bungsu yang dulu langganan ranking 1 di SDN Buata dan pernah mewakili lomba Matematika harus menerima kenyataan pahit ini? Kenyataannya teramat kejam; dari seluruh siswa di kelas kami, hanya dua orang saja yang dinyatakan lulus. Selebihnya, termasuk saya, dipaksa menelan pil pahit kegagalan.


Namun, di titik nadir itulah fondasi mental anak tukang bangunan diuji. Tanpa memedulikan gengsi, sesuai dengan nasihat Ibu, saya mengambil satu-satunya jalur alternatif yang tersisa demi menyambung impian: Ujian Kesetaraan Paket C. Saya belajar lebih keras, menepis segala cibiran, dan menyelesaikan ujian tersebut dengan satu tekad: saya harus tetap maju.


Lembaran hitam tahun 2006 itu berhasil saya lewati lewat ujian kesetaraan Paket C. Namun, ijazah di tangan tidak serta-merta membukakan gerbang ruang kuliah. Keadaan ekonomi keluarga menuntut saya untuk menunda impian akademik itu terlebih dahulu. Selama dua tahun penuh setelah lulus (2006–2008), saya resmi turun ke lapangan, bekerja kasar sebagai seorang kuli bangunan.


Roda hidup berputar dengan cara yang sangat puitis. Anak bungsu yang dulu hanya menonton dari jauh peluh Ti Basi Kona di lokasi proyek, kini berdiri di tempat yang sama, memegang sekop yang sama, dan mencium aroma semen basah yang sama sebagai pekerja. Selama dua tahun itu, tangan saya memikul beban batako, mengaduk pasir di bawah sengat matahari, dan menaikkan dinding-dinding rumah orang lain.


Saya tidak pernah malu menjadi kuli, karena dari setiap rupiah hasil mengangkat semen itulah saya mempraktikkan langsung nasihat Ti Mani: "yang membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi." Dua tahun menjadi kuli bangunan adalah universitas kehidupan yang membentuk saya menjadi manusia yang tahan banting.

Ujian Terakhir di Garis Start (2008)


Hingga akhirnya pada tahun 2008, waktu yang dinanti itu tiba. Berbekal mental kuli yang tebal dan uang tabungan dari keringat sendiri, saya resmi mendaftarkan diri ke Politeknik Gorontalo, mengambil jurusan Alat Mesin Pertanian (Mekanisasi Pertanian).


Namun, tepat di saat saya sedang mengikuti ujian masuk kuliah, takdir kembali menguji urat saraf kami. Ibu tercinta, Ti Mani, jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit selama satu minggu penuh.


Fokus saya seketika terbelah antara lembar soal ujian masuk kampus dan kecemasan akan kondisi Ibu yang terbaring lemah. Demi kesembuhan Ti Mani, tanpa berpikir dua kali, seluruh uang tabungan yang saya kumpulkan dengan susah payah dari hasil memeras keringat menjadi kuli bangunan selama dua tahun—yang sedianya digunakan untuk biaya daftar ulang kuliah—akhirnya habis terkuras tak bersisa untuk biaya perawatan.


Saya berdiri di lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Ibu mulai membaik, namun impian kuliah yang sudah berada di depan mata seolah kembali menguap karena saya tidak punya uang lagi untuk membayar daftar ulang.


Di titik kritis itulah, ketangguhan seorang Ti Basi Kona kembali menyelamatkan mimpi saya. Melihat anak bungsunya nyaris patah arang, Ayah mengambil sebuah keputusan besar. Kelapa di kebun yang dulu pernah dijaminkan orang lain kepada beliau karena suatu urusan, diputuskan untuk ditebus dan dilepas hari itu juga demi mendapatkan modal darurat. Beliau meruntuhkan aset yang dimilikinya demi menegakkan kembali fondasi masa depan anaknya

.

Berkat ketangguhan dan pengorbanan Ti Basi Kona, lembaran rupiah untuk daftar ulang itu akhirnya berhasil terkumpul kembali. Pintu gerbang Politeknik Gorontalo yang nyaris tertutup rapat, akhirnya terbuka lebar bagi saya.


Saya resmi melangkah masuk ke dalam dunia kampus bukan lagi sebagai mahasiswa biasa; saya adalah anak bungsu dari Lorong Sukma yang melangkah dengan modal doa kesembuhan dari Ti Mani, peluh dari dua tahun menjadi kuli bangunan, dan pengorbanan kelapa dari Ti Basi Kona. Di pundak saya, ada amanah besar yang harus saya bayar tuntas lewat prestasi.