Setiap orang memiliki memori masa kecil yang terekam lewat aroma. Ada yang mengingat wangi masakan ibu, ada pula yang mengingat harumnya halaman buku-buku baru. Bagi saya, masa kecil adalah perpaduan antara aroma semen basah, debu pasir yang beterbangan di bawah terik matahari, dan bau peluh dari kaus usang yang dikenakan oleh Ayah.
Perjalanan
ini dimulai pada tahun 1987, di sebuah sudut kecil yang kelak membentuk siapa
saya hari ini: Lorong Sukma, Desa Luwohu, Kecamatan Kabila. Saat itu,
tanah kelahiran kami masih bernaung di bawah bendera Provinsi Sulawesi Utara.
Di lorong itulah, tangis pertama saya pecah, menyapa dunia dari sebuah keluarga
yang sederhana namun kaya akan ketulusan.
Saya
lahir sebagai anak dari seorang pria luar biasa bernama Ibrahim Padjo.
Di mata hukum dan dokumen resmi, itulah nama beliau. Namun, bagi warga sekitar
yang mengenalnya dengan akrab, beliau adalah Ti Basi Kona. Seorang
tukang bangunan yang tangan-tangannya telah menjadi saksi bisu runtuhnya lelah
demi tegaknya dinding-dinding rumah orang lain. Di sampingnya, berdiri sosok
ibu yang teduh, Sarce Adam, yang oleh tetangga kanan-kiri hangat disapa Ti
Mani.
Di
rumah sederhana di Lorong Sukma itu, saya tidak sendirian. Saya tumbuh bersama
kakak-kakak saya yang luar biasa: Suwarni Ibrahim yang biasa kami sapa Cili
Warni, Abdurahman Ibrahim yang akrab disapa Kak Roy, dan Zulkarnain
Ibrahim atau Kak Nain. Sebagai anak terakhir, si bungsu di
dalam rumah, saya bertumbuh dalam dekapan hangat kakak-kakak dan orang tua.
Kami berempat tumbuh dalam ruang yang sama, menyaksikan ritme hidup yang sama,
dan bersama-sama belajar mengerti arti dari sebuah perjuangan hidup.
Sejak
kecil, mata kami terbiasa menyaksikan bagaimana jemari tangan Ti Basi Kona yang
kasar dan pecah-pecah mampu menjinakkan semen, menyusun bata demi bata dengan
presisi yang mengagumkan. Di bawah sengat matahari Kabila yang membakar kulit,
Ayah tegak berdiri. Mengaduk pasir, mengangkat beban berat, memastikan setiap
sudut bangunan berdiri tegak lurus tanpa cela.
Tugas
Ayah adalah membangun rumah yang megah dan kokoh untuk orang lain. Namun, di
balik dinding-dinding yang beliau selesaikan, di dalam rumah kami sendiri di
Lorong Sukma, Ayah dan Ti Mani sedang mengerjakan proyek terbesar dalam hidup
mereka: membangun masa depan anak-anaknya.
Bagi
banyak orang, Ayah mungkin terlihat hanya sebagai pria dengan baju penuh noda
semen. Namun di mata kami, Ti Basi Kona adalah seorang jenderal di lapangan
proyek. Beliau tidak hanya bekerja dengan otot, tapi juga dengan visi. Beliau
dipercaya memimpin anak buah untuk membangun rumah-rumah besar hingga
gedung-gedung yang tinggi.
Saya
sering memperhatikan bagaimana Ayah memimpin di lokasi pembangunan. Beliau
adalah pusat komando. Bukan dengan teriakan yang kasar, melainkan dengan
instruksi yang presisi. Beliau tahu kapan harus menegur jika adukan semen
terlalu encer, dan tahu bagaimana memberi semangat saat kawan-kawannya mulai
kelelahan dihantam terik matahari.
Ada
kebanggaan tersendiri saat melihat gedung-gedung besar mulai berdiri tegak atas
arahan tangan Ayah. Di sana, saya belajar satu hal penting: Membangun gedung
bukan hanya soal menyusun batu, tapi soal mengelola manusia. Ayah
mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi yang pertama datang dan yang
terakhir pulang. Jika ada kesalahan pada fondasi, Ayah adalah orang pertama
yang akan memperbaikinya, karena bagi beliau, sebuah bangunan adalah pertaruhan
nama baik dan tanggung jawab moral.
Kami
tidak tumbuh dalam gelimang kemewahan. Rumah kami di Luwohu dihidupi dari upah
seorang buruh bangunan. Setiap rupiah yang dihasilkan Ayah harus dibagi dengan
cermat oleh Ti Mani antara isi piring di dapur dan biaya sekolah kami berempat.
Namun, di tengah keterbatasan ekonomi itu, kami tidak hanya berpangku tangan menunggu
upah harian Ayah. Ibu adalah tiang penyangga yang tak kalah tangguh dalam
berikhtiar.
Setiap
pagi, sebelum matahari benar-benar terbit di ufuk timur Kabila, suara lembut Ti
Mani sudah menggema membangunkan kami anak-anaknya. Aroma dapur yang khas mulai
tercium. Ibu selalu meminta kami segera berkemas untuk bersiap ke sekolah,
namun ada satu tugas tambahan yang kami pikul dengan penuh rasa tanggung jawab.
Sebelum
berangkat, tangan-tangan kami sudah siap menjinjing wadah berisi pisang goreng
hangat dan popolulu—kue ubi jalar tradisional yang manis dan gurih
buatan tangan Ibu. Tugas kami berempat adalah membawa kue-kue itu untuk
dititipkan di kantin sekolah dan waserda (warung serba ada) di sekitar kampung.
Melihat
kami bersiap membawa jualan, Ti Mani selalu menatap kami dengan pandangan penuh
keyakinan dan menanamkan mental baja ke dalam dada kami. Beliau berkata:
"Jangan
malu mo cari doi uti, karena yang akan membuat kalian besar adalah rajin bukan
gengsi."
Kombinasi
antara adonan kue Ibu dan nasihat itu menguapkan segala rasa minder dari hati
kami. Setiap gigitan kue yang laku terjual di kantin sekolah adalah tambahan
kepingan rupiah demi memastikan pendidikan kami tidak terputus di tengah jalan.
Dari Lorong Sukma, kami ditempa untuk paham bahwa kehormatan hidup dicari lewat
cucuran keringat yang halal, bukan lewat gengsi yang semu.
Satu
hal yang paling membekas adalah pesan yang selalu Ayah ucapkan dengan suara
seraknya yang khas saat melepas kami berangkat. Dalam bahasa yang jujur dan
membumi, Ayah selalu mengingatkan kami:
"Ti
Aba ada ba kerja demi masa depan li ngoni, belajar bae-bae nunu..." (Ayah bekerja demi masa depan kalian, belajar baik-baik
anakku...)
Kalimat
itu bukan sekadar nasehat biasa. Itu adalah janji seorang ayah kepada Cili
Warni, Kak Roy, Kak Nain, dan saya—sebuah komitmen bahwa beliau rela tulang
punggungnya remuk demi melihat anak-anaknya bisa duduk di kursi sekolah yang
layak.
Ti
Mani pun selalu menguatkan perjuangan itu dengan doanya yang tulus. Sambil
menyiapkan kopi hangat saat Ayah pulang kerja, Ibu sering menggenggam pundak
saya dan berbisik lembut:
"Ti
Abamu uito boti ma hipomongula gedung, odito olo yio mesti mopo’olamahu masa
depan olemu." (Ayahmu itu membangun gedung,
supaya kamu juga harus membangun masa depanmu).
Saya
adalah anak si tukang bangunan, si bungsu yang meresapi setiap peluh, manisnya
perjuangan kue popolulu, dan didikan tanpa gengsi di rumah itu. Dari
Lorong Sukma, bersama Cili Warni, Kak Roy, dan Kak Nain, serta berbekal doa Ti
Mani dan peluh dari Ti Basi Kona, fondasi hidup saya resmi diletakkan.



