Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


BAB 1 : Aroma Semen dan Peluh Ayah

 


Setiap orang memiliki memori masa kecil yang terekam lewat aroma. Ada yang mengingat wangi masakan ibu, ada pula yang mengingat harumnya halaman buku-buku baru. Bagi saya, masa kecil adalah perpaduan antara aroma semen basah, debu pasir yang beterbangan di bawah terik matahari, dan bau peluh dari kaus usang yang dikenakan oleh Ayah.


Perjalanan ini dimulai pada tahun 1987, di sebuah sudut kecil yang kelak membentuk siapa saya hari ini: Lorong Sukma, Desa Luwohu, Kecamatan Kabila. Saat itu, tanah kelahiran kami masih bernaung di bawah bendera Provinsi Sulawesi Utara. Di lorong itulah, tangis pertama saya pecah, menyapa dunia dari sebuah keluarga yang sederhana namun kaya akan ketulusan.


Saya lahir sebagai anak dari seorang pria luar biasa bernama Ibrahim Padjo. Di mata hukum dan dokumen resmi, itulah nama beliau. Namun, bagi warga sekitar yang mengenalnya dengan akrab, beliau adalah Ti Basi Kona. Seorang tukang bangunan yang tangan-tangannya telah menjadi saksi bisu runtuhnya lelah demi tegaknya dinding-dinding rumah orang lain. Di sampingnya, berdiri sosok ibu yang teduh, Sarce Adam, yang oleh tetangga kanan-kiri hangat disapa Ti Mani.


Di rumah sederhana di Lorong Sukma itu, saya tidak sendirian. Saya tumbuh bersama kakak-kakak saya yang luar biasa: Suwarni Ibrahim yang biasa kami sapa Cili Warni, Abdurahman Ibrahim yang akrab disapa Kak Roy, dan Zulkarnain Ibrahim atau Kak Nain. Sebagai anak terakhir, si bungsu di dalam rumah, saya bertumbuh dalam dekapan hangat kakak-kakak dan orang tua. Kami berempat tumbuh dalam ruang yang sama, menyaksikan ritme hidup yang sama, dan bersama-sama belajar mengerti arti dari sebuah perjuangan hidup.


Sejak kecil, mata kami terbiasa menyaksikan bagaimana jemari tangan Ti Basi Kona yang kasar dan pecah-pecah mampu menjinakkan semen, menyusun bata demi bata dengan presisi yang mengagumkan. Di bawah sengat matahari Kabila yang membakar kulit, Ayah tegak berdiri. Mengaduk pasir, mengangkat beban berat, memastikan setiap sudut bangunan berdiri tegak lurus tanpa cela.


Tugas Ayah adalah membangun rumah yang megah dan kokoh untuk orang lain. Namun, di balik dinding-dinding yang beliau selesaikan, di dalam rumah kami sendiri di Lorong Sukma, Ayah dan Ti Mani sedang mengerjakan proyek terbesar dalam hidup mereka: membangun masa depan anak-anaknya.


Bagi banyak orang, Ayah mungkin terlihat hanya sebagai pria dengan baju penuh noda semen. Namun di mata kami, Ti Basi Kona adalah seorang jenderal di lapangan proyek. Beliau tidak hanya bekerja dengan otot, tapi juga dengan visi. Beliau dipercaya memimpin anak buah untuk membangun rumah-rumah besar hingga gedung-gedung yang tinggi.


Saya sering memperhatikan bagaimana Ayah memimpin di lokasi pembangunan. Beliau adalah pusat komando. Bukan dengan teriakan yang kasar, melainkan dengan instruksi yang presisi. Beliau tahu kapan harus menegur jika adukan semen terlalu encer, dan tahu bagaimana memberi semangat saat kawan-kawannya mulai kelelahan dihantam terik matahari.


Ada kebanggaan tersendiri saat melihat gedung-gedung besar mulai berdiri tegak atas arahan tangan Ayah. Di sana, saya belajar satu hal penting: Membangun gedung bukan hanya soal menyusun batu, tapi soal mengelola manusia. Ayah mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi yang pertama datang dan yang terakhir pulang. Jika ada kesalahan pada fondasi, Ayah adalah orang pertama yang akan memperbaikinya, karena bagi beliau, sebuah bangunan adalah pertaruhan nama baik dan tanggung jawab moral.


Kami tidak tumbuh dalam gelimang kemewahan. Rumah kami di Luwohu dihidupi dari upah seorang buruh bangunan. Setiap rupiah yang dihasilkan Ayah harus dibagi dengan cermat oleh Ti Mani antara isi piring di dapur dan biaya sekolah kami berempat. Namun, di tengah keterbatasan ekonomi itu, kami tidak hanya berpangku tangan menunggu upah harian Ayah. Ibu adalah tiang penyangga yang tak kalah tangguh dalam berikhtiar.


Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit di ufuk timur Kabila, suara lembut Ti Mani sudah menggema membangunkan kami anak-anaknya. Aroma dapur yang khas mulai tercium. Ibu selalu meminta kami segera berkemas untuk bersiap ke sekolah, namun ada satu tugas tambahan yang kami pikul dengan penuh rasa tanggung jawab.


Sebelum berangkat, tangan-tangan kami sudah siap menjinjing wadah berisi pisang goreng hangat dan popolulu—kue ubi jalar tradisional yang manis dan gurih buatan tangan Ibu. Tugas kami berempat adalah membawa kue-kue itu untuk dititipkan di kantin sekolah dan waserda (warung serba ada) di sekitar kampung.


Melihat kami bersiap membawa jualan, Ti Mani selalu menatap kami dengan pandangan penuh keyakinan dan menanamkan mental baja ke dalam dada kami. Beliau berkata:


"Jangan malu mo cari doi uti, karena yang akan membuat kalian besar adalah rajin bukan gengsi."


Kombinasi antara adonan kue Ibu dan nasihat itu menguapkan segala rasa minder dari hati kami. Setiap gigitan kue yang laku terjual di kantin sekolah adalah tambahan kepingan rupiah demi memastikan pendidikan kami tidak terputus di tengah jalan. Dari Lorong Sukma, kami ditempa untuk paham bahwa kehormatan hidup dicari lewat cucuran keringat yang halal, bukan lewat gengsi yang semu.


Satu hal yang paling membekas adalah pesan yang selalu Ayah ucapkan dengan suara seraknya yang khas saat melepas kami berangkat. Dalam bahasa yang jujur dan membumi, Ayah selalu mengingatkan kami:


"Ti Aba ada ba kerja demi masa depan li ngoni, belajar bae-bae nunu..." (Ayah bekerja demi masa depan kalian, belajar baik-baik anakku...)


Kalimat itu bukan sekadar nasehat biasa. Itu adalah janji seorang ayah kepada Cili Warni, Kak Roy, Kak Nain, dan saya—sebuah komitmen bahwa beliau rela tulang punggungnya remuk demi melihat anak-anaknya bisa duduk di kursi sekolah yang layak.


Ti Mani pun selalu menguatkan perjuangan itu dengan doanya yang tulus. Sambil menyiapkan kopi hangat saat Ayah pulang kerja, Ibu sering menggenggam pundak saya dan berbisik lembut:


"Ti Abamu uito boti ma hipomongula gedung, odito olo yio mesti mopo’olamahu masa depan olemu." (Ayahmu itu membangun gedung, supaya kamu juga harus membangun masa depanmu).


Saya adalah anak si tukang bangunan, si bungsu yang meresapi setiap peluh, manisnya perjuangan kue popolulu, dan didikan tanpa gengsi di rumah itu. Dari Lorong Sukma, bersama Cili Warni, Kak Roy, dan Kak Nain, serta berbekal doa Ti Mani dan peluh dari Ti Basi Kona, fondasi hidup saya resmi diletakkan.