Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


Birokrasi yang Terbelah: Dampak Ngeri Pecah Kongsi di "Serambi Madinah"

Opini: Zulkifli Ibrahim - Birokrasi Terbelah
Kolom Opini Spesial

Birokrasi yang Terbelah: Dampak Ngeri Pecah Kongsi di "Serambi Madinah"

Oleh: Zulkifli Ibrahim | Kamis, 9 April 2026

Fenomena pecah kongsi antara Bupati dan Wakil Bupati bukan lagi barang baru dalam panggung politik kita, namun dampaknya selalu menyisakan luka yang dalam bagi daerah. Ketika dua pucuk pimpinan yang awalnya berikrar sejalan mulai memunggungi satu sama lain, maka yang pertama kali menjadi korban adalah harmoni birokrasi.

Di wilayah yang kita cintai, "Serambi Madinah", nilai-nilai kebersamaan seharusnya menjadi ruh dalam menjalankan pemerintahan. Namun, ketika ego politik mulai menelikung komitmen awal, panggung kekuasaan berubah menjadi arena pacuan yang saling menjatuhkan antar sesama kawan seperjuangan.

Birokrasi yang terbelah adalah konsekuensi logis dari ketidakharmonisan pimpinan. Para Aparatur Sipil Negara (ASN) seringkali terjebak dalam dilema loyalitas; apakah harus patuh pada "Nomor Satu" atau menjaga perasaan "Nomor Dua" demi kelangsungan karier mereka.

Kondisi ini menciptakan sekat-sekat imajiner di dalam kantor dinas hingga badan pemerintahan. Ada kubu yang secara terang-terangan mencari muka pada bupati, dan ada pula yang memilih bersembunyi di balik pengaruh wakil bupati, menciptakan iklim kerja yang penuh kecurigaan.

Dampak ngerinya sangat nyata: pelayanan publik melambat. Ketika pimpinan tidak lagi satu meja, keputusan strategis seringkali tertahan karena adanya aksi saling kunci atau ego sektoral yang tak kunjung menemukan titik temu dalam rapat-rapat penting.

Janji kampanye yang dulu digelorakan dengan penuh semangat di hadapan rakyat seolah menjadi tumpukan kertas tak bermakna. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun daerah justru habis terkuras untuk mengelola konflik internal dan intrik politik.

Pecah kongsi seringkali berakar dari ketidakpatuhan terhadap komitmen awal yang telah disepakati bersama. Pembagian kewenangan yang tidak proporsional membuat salah satu pihak merasa hanya dijadikan pajangan, sementara pihak lain merasa paling berhak atas segala kebijakan.

Di tengah masyarakat Gorontalo yang sangat menjaga etika dan tata krama, fenomena ini tentu menjadi tontonan yang tidak edukatif. Kepemimpinan adalah keteladanan, dan jika pemimpinnya saling bertikai, maka semangat gotong royong masyarakat pun akan ikut luntur.

Secara ekonomi, ketidakharmonisan pimpinan daerah berdampak langsung pada rendahnya kepercayaan investor luar. Siapa yang mau menanamkan modal di daerah yang nakhodanya sedang berebut pengaruh dan tidak pernah sinkron dalam menentukan arah kebijakan.

Mari kita lihat dari sisi anggaran daerah. Seringkali terjadi tarik ulur dalam penyusunan program kerja karena masing-masing pihak ingin menonjolkan "proyek mercusuar" demi kepentingan popularitas pribadi menuju kontestasi politik di periode berikutnya.

"Kekuasaan itu amanah, bukan sekadar trofi kemenangan. Ketika amanah itu terbagi dalam kebencian, rakyatlah yang paling pertama menanggung bebannya."

Rakyat kecil di pelosok desa tidak butuh tahu siapa yang paling berkuasa; mereka hanya butuh jalan yang layak, harga pupuk yang terjangkau, dan pelayanan kesehatan yang cepat tanpa harus menunggu persetujuan pimpinan yang sedang berkonflik.

Komitmen politik seharusnya diletakkan di atas segala kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ketika seseorang memilih untuk berpasangan dalam pilkada, ia seharusnya sadar bahwa kepentingan rakyat adalah muara dari segala napas kebijakan yang diambil.

Fenomena "ban serep" yang sering dialamatkan kepada wakil bupati harus segera diakhiri melalui pembagian peran yang jelas. Tanpa kepercayaan dan pendelegasian wewenang yang tulus, wakil bupati hanya akan menjadi penonton bisu di rumahnya sendiri.

Di sisi lain, wakil bupati juga harus memiliki kesabaran politik. Bermanuver terlalu dini untuk menggusur bupati petahana sebelum masa jabatan berakhir adalah tindakan yang mencederai etika politik dan merusak stabilitas daerah.

Kita merindukan kepemimpinan yang harmonis di Serambi Madinah, di mana bupati dan wakilnya saling mengisi layaknya dua sisi mata uang. Sinkronisasi kepemimpinan adalah kunci utama percepatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, seringkali tim sukses menjadi "api dalam sekam". Bisikan-bisikan dari lingkaran dalam yang merasa tidak mendapat jatah kekuasaan seringkali menjadi pemicu utama keretakan hubungan antara kedua pemimpin tersebut.

Tim sukses yang pragmatis cenderung memprovokasi agar pemimpin mereka tampil lebih dominan, tanpa mempedulikan nasib kolektivitas pemerintahan. Inilah awal dari kehancuran komitmen yang telah dibangun di atas kertas perjanjian.

Peran partai pengusung pun sangat krusial dalam menengahi konflik ini. Jangan sampai partai justru menjadi kompor yang memperbesar api perselisihan demi mengamankan kepentingan politik di masa yang akan datang, mengabaikan mandat rakyat.

Birokrasi harus tetap netral dan profesional, namun realitanya sulit dicapai jika pimpinan secara implisit memerintahkan bawahannya untuk memihak. Ini adalah racun bagi sistem pemerintahan yang sehat dan bersih dari kepentingan pragmatis.

Budaya "ABS" (Asal Bapak Senang) kembali tumbuh subur dalam birokrasi yang terbelah. Pejabat lebih sibuk menjaga perasaan pimpinan daripada memikirkan inovasi program yang bisa menyejahterakan rakyat di wilayahnya.

Kondisi ini diperparah dengan sistem politik kita yang sangat mahal. Biaya politik yang tinggi saat pencalonan membuat kedua belah pihak merasa memiliki hak yang sama besar dalam mengelola sumber daya daerah, yang berujung pada perebutan akses anggaran.

Psikologi kekuasaan seringkali mengubah karakter seseorang. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah untuk melayani, berubah menjadi simbol gengsi yang harus dipertahankan mati-matian, meski harus mengorbankan keharmonisan dengan pasangan politik.

Kita harus jujur mengakui bahwa rekrutmen politik kita seringkali hanya didasarkan pada kalkulasi kemenangan suara, bukan pada kesamaan visi dan kecocokan karakter dalam membangun daerah untuk jangka panjang.

Akibatnya, hubungan bupati dan wakil bupati seringkali hanya menjadi "pernikahan kontrak" yang berakhir tragis begitu kursi empuk kekuasaan sudah diraih. Kesepakatan awal dilupakan, dan ego mulai berbicara lebih keras daripada logika.

Dampaknya ke tingkat desa sangat terasa. Program bantuan seringkali terhambat karena adanya sengketa kewenangan di tingkat kabupaten. Masyarakat desa yang tidak tahu apa-apa menjadi korban dari ambisi politik para elit di tingkat atas.

Aparat di tingkat kecamatan dan desa pun mulai berpolitik praktis. Mereka dipaksa memilih kubu demi mengamankan kucuran dana desa atau bantuan sosial, yang seharusnya mengalir tanpa syarat politis apapun.

Kepemimpinan di Gorontalo memiliki sejarah panjang tentang musyawarah dan mufakat. Jika para pimpinan saat ini tidak mampu bermusyawarah, maka mereka sebenarnya telah mengkhianati nilai-nilai leluhur yang mereka agung-agungkan.

Saatnya kita merefleksikan kembali makna kepemimpinan dalam Islam yang sangat dijunjung tinggi di Serambi Madinah. Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya, bukan penguasa yang sibuk bertikai demi memperluas pengaruh pribadi.

Kedewasaan politik adalah kunci. Seorang pemimpin yang dewasa akan mampu mengesampingkan ego pribadinya demi kepentingan yang lebih besar. Ia akan menghargai pasangannya sebagai mitra strategis, bukan sebagai ancaman politik.

Sebaliknya, seorang wakil yang dewasa akan memahami posisinya sebagai pendukung utama keberhasilan program bupati, tanpa harus merasa terhina dengan peran-peran yang bersifat membantu dan koordinatif.

Rakyat akan mencatat dengan tinta emas siapa pemimpin yang teguh pada komitmen dan siapa yang berkhianat. Sejarah tidak pernah ramah kepada pemimpin yang lebih mengutamakan ego pribadi daripada kesejahteraan umat yang telah memberikan amanah.

Kita butuh mekanisme pengawasan yang lebih kuat terhadap hubungan kepala daerah. Mungkin perlu ada regulasi yang lebih tegas mengenai pembagian wewenang agar tidak ada lagi istilah "ban serep" yang memicu ketidakharmonisan.

Namun, di atas segala aturan, moralitas adalah pondasi utama. Tanpa integritas dan kejujuran dalam memegang janji, aturan secanggih apapun tidak akan mampu mencegah pecah kongsi yang merugikan rakyat banyak.

Opini ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama bagi mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Kekuasaan itu sementara, namun dampak dari kebijakan dan perilaku politik akan membekas selamanya dalam ingatan masyarakat.

Jangan biarkan birokrasi kita hancur karena ego. Jangan biarkan masa depan Serambi Madinah tergadai karena ketidakmampuan pimpinan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga pemerintahan yang telah mereka bangun sendiri.

Perlu ada gerakan moral dari masyarakat sipil, akademisi, dan tokoh agama untuk terus mendesak agar para pimpinan daerah kembali pada rel perjuangan yang benar, yakni melayani rakyat dengan sepenuh hati.

Kritik yang konstruktif melalui media massa harus terus disuarakan sebagai kontrol sosial. Kita tidak boleh diam melihat birokrasi yang terkotak-kotak hanya karena kepentingan segelintir elit politik yang haus akan pengakuan.

Mari kita tutup rapat ruang bagi perpecahan di tanah Gorontalo. Kita rindu melihat para pimpinan duduk bersama, tertawa bersama, dan bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan dan pengangguran di daerah kita.

Hanya dengan persatuan dan komitmen yang kuat, Serambi Madinah bisa benar-benar bangkit menjadi daerah yang maju, bermartabat, dan penuh berkah di bawah nakhoda yang seiring sejalan membawa kapal daerah menuju pulau harapan.

Semoga tulisan ini menjadi cermin bagi siapa saja yang sedang menjabat atau yang akan mencalonkan diri. Ingatlah, kehormatan seorang pemimpin terletak pada kemampuannya menjaga amanah dan komitmen, bukan pada seberapa besar kekuasaan yang ia dominasi sendirian.

© 2026 Zulkifli Ibrahim. All Rights Reserved.
Diterbitkan di Gorontalo, Indonesia.