Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


Menagih Kedaulatan Pertanian Bone Bolango: Mengubah Angka Statistik Menjadi Kesejahteraan Riil

Menagih Kedaulatan Pertanian Bone Bolango - Zulkifli Ibrahim

Menagih Kedaulatan Pertanian Bone Bolango:
Mengubah Angka Statistik Menjadi Kesejahteraan Riil

Oleh: Zulkifli Ibrahim Ketua BPC HIPMI Bone Bolango

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Kabupaten Bone Bolango adalah jantung kehidupan yang memberikan kontribusi dominan sebesar 33,96 persen terhadap PDRB kita. Namun, angka besar ini jangan sampai membuat kita terlena dalam rasa aman yang semu. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa besarnya kontribusi tersebut belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani secara signifikan, karena kita masih terjebak dalam pola pertanian tradisional yang minim nilai tambah.

Data tahun 2025 memperlihatkan ketimpangan yang nyata: di saat sektor pertambangan melesat tumbuh 13,59 persen, sektor pertanian sebagai penopang hidup mayoritas rakyat justru bergerak lambat. Ini adalah sinyal bahwa ada yang salah dalam strategi pembangunan ekonomi kita. Kita seolah membiarkan sektor yang paling krusial bagi hajat hidup orang banyak ini tertinggal, sementara sektor ekstraktif mengambil panggung utama tanpa kepastian keberlanjutan bagi masyarakat bawah.

Kritik keras harus dilayangkan pada mandeknya hilirisasi pertanian di daerah kita. Selama puluhan tahun, Bone Bolango hanya menjadi "pelayan" bagi daerah lain dengan mengirimkan bahan mentah seperti jagung dan kelapa tanpa pengolahan. Kita membiarkan nilai tambah ekonomi lari ke luar daerah, sementara petani kita tetap menanggung risiko gagal panen dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Kondisi ini adalah bentuk pembiaran ekonomi yang tidak boleh diteruskan.

"Birokrasi seringkali hanya sibuk dengan urusan administratif pembagian bibit dan pupuk, namun abai dalam membangun ekosistem pasar yang berkeadilan. Kita butuh revolusi kebijakan yang menyentuh hulu hingga hilir."

Solusi pertama dan utama adalah Industrialisasi Pertanian Berbasis Desa. Pemerintah daerah bersama sektor swasta harus berani berinvestasi pada pembangunan pabrik pakan ternak atau pengolahan minyak kelapa skala menengah di Bone Bolango. Dengan mengolah hasil panen sendiri, kita tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga memastikan harga beli di tingkat petani tetap stabil karena adanya permintaan industri lokal yang konsisten.

Kedua, kita harus melakukan Revitalisasi Peran BUMDes sebagai Agregator Pertanian. BUMDes tidak boleh lagi menjadi penonton. BUMDes harus menjadi garda terdepan yang membeli hasil panen petani dengan harga layak, melakukan pengemasan yang modern, dan menembus pasar ritel. Kita butuh BUMDes yang berfungsi sebagai pelindung petani dari jeratan spekulan, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi desa yang mandiri.

Ketiga, digitalisasi pertanian harus diimplementasikan secara total, bukan sekadar gaya-gayaan. Kita butuh sistem informasi pertanian yang akurat untuk memetakan potensi lahan, memantau masa panen secara presisi, dan menghubungkan petani langsung dengan pembeli melalui platform digital. Efisiensi yang dihasilkan dari teknologi ini akan memangkas biaya operasional dan meningkatkan margin keuntungan bagi petani kecil di pelosok desa.

Persoalan pupuk yang terus berulang harus diselesaikan dengan solusi inovatif, bukan hanya bergantung pada subsidi pusat yang seringkali tidak tepat sasaran. HIPMI mendorong pengembangan industri pupuk organik cair dan nutrisi tanaman berbasis kearifan lokal. Dengan kemandirian sarana produksi, petani tidak lagi dipusingkan oleh kelangkaan pupuk kimia, sekaligus menjaga kesehatan tanah kita untuk generasi masa depan.

Pendidikan vokasi bagi anak muda desa harus segera diarahkan pada Agripreneurship. Kita tidak ingin melihat anak-anak petani kita pergi ke kota hanya untuk menjadi buruh kasar. Kita harus mencetak pengusaha muda yang bangga bertani dengan menggunakan teknologi modern. Mereka adalah kunci transformasi pertanian kita dari sekadar cara bertahan hidup menjadi bisnis yang profesional dan menguntungkan.

Keempat, akses pembiayaan bagi sektor pertanian harus dipermudah melalui skema kredit yang ramah petani. Perbankan daerah harus berani mengambil peran lebih besar dalam mendanai inovasi pertanian. Kita butuh modal yang fleksibel untuk mendukung pembelian alat mesin pertanian (alsintan) modern, sehingga produktivitas lahan kita bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dari angka saat ini.

Integrasi antara sektor pertanian dan pariwisata (Agrowisata) harus digarap dengan serius. Bone Bolango memiliki keunggulan alam yang luar biasa. Jika lahan pertanian kita dikelola dengan konsep wisata yang menarik, petani akan mendapatkan pendapatan ganda; dari hasil bumi dan dari jasa wisata. Ini adalah cara cerdas untuk meningkatkan daya tarik sektor pertanian bagi generasi milenial dan Gen Z.

Kelima, pemerintah daerah harus memiliki nyali untuk membatasi masuknya produk pertanian luar yang bisa merusak harga lokal. Perlindungan terhadap petani lokal harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan perdagangan daerah. Kita harus memastikan bahwa pasar-pasar tradisional dan supermarket di Bone Bolango memprioritaskan hasil bumi dari tanah kita sendiri sebagai bentuk patriotisme ekonomi.

Kita juga perlu mengkritisi kontraksi konsumsi pemerintah yang terjadi di tahun 2025. Belanja daerah seharusnya dialokasikan untuk membangun gudang penyimpanan dingin (cold storage) dan lantai jemur yang layak. Ketiadaan fasilitas ini membuat petani terpaksa menjual hasil panen dengan harga murah karena takut busuk atau rusak. Pembangunan infrastruktur pasca-panen adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.

HIPMI siap menjadi jembatan bagi para investor yang ingin masuk ke sektor industri pengolahan pertanian. Namun, kami memberikan syarat tegas: investasi tersebut harus melibatkan tenaga kerja lokal dan memberikan ruang bagi UMKM desa sebagai mitra strategis. Kita tidak ingin investasi yang hanya menjadi "menara gading" di tengah kemiskinan masyarakat agraris kita.

Pembangunan merek kolektif untuk produk unggulan Bone Bolango harus dimulai. Produk kita harus memiliki identitas yang kuat, sehingga konsumen tahu bahwa dengan membeli produk tersebut, mereka sedang membantu menyejahterakan petani Bone Bolango. Media massa lokal harus berperan aktif dalam mengampanyekan gerakan bangga produk tani lokal sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Kedaulatan pangan bukan sekadar swasembada, tapi tentang bagaimana petani memiliki kendali atas nasibnya sendiri. Selama petani belum bisa menentukan harga jual yang layak, maka selama itu pula kedaulatan kita masih semu. Kita butuh konsolidasi kekuatan antara kelompok tani, BUMDes, dan pengusaha lokal untuk menciptakan kekuatan tawar yang besar di pasar regional maupun nasional.

Setiap jengkal tanah di Bone Bolango adalah aset yang sangat berharga. Program reforma agraria di tingkat lokal harus memastikan bahwa lahan-lahan produktif tidak dialihfungsikan menjadi perumahan atau pertambangan secara semena-mena. Perlindungan lahan pertanian berkelanjutan adalah harga mati jika kita ingin Bone Bolango tetap bertahan dalam jangka panjang.

Tahun 2026 harus menjadi titik balik bagi sektor pertanian kita. Angka kontribusi 33,96 persen harus diikuti dengan penurunan angka kemiskinan petani secara drastis. Kita butuh aksi nyata di lapangan, bukan sekadar seremoni peresmian gedung atau seminar di hotel berbintang. Rakyat butuh solusi yang bisa mengisi piring mereka dan menyekolahkan anak-anak mereka.

Sebagai penutup, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menengok ke tanah kita. Kekayaan sesungguhnya bukan terkubur dalam bentuk mineral di bawah tanah, melainkan tumbuh di atas tanah melalui tangan-tangan dingin petani kita. Jika kita mampu mengelola pertanian dengan hati dan teknologi, Bone Bolango akan menjadi mercusuar ekonomi baru di Provinsi Gorontalo.

Mari kita bekerja lebih keras dan bersinergi. Masa depan Bone Bolango adalah masa depan pertanian yang modern, berdaulat, dan menyejahterakan. Sudah saatnya petani kita naik kelas, dan itu adalah tanggung jawab kita semua untuk mewujudkannya sekarang juga. Bersama kita bisa mengubah tantangan menjadi kemenangan ekonomi bagi rakyat!