Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.

Jurnalis · Mediator Profesional · Aktivis Organisasi

Zulkifli Ibrahim

Keluarga

Eka Pratiwi Adam, S.Pd

Alia Nazwa Nur Zulkifli

Pendidikan

  • S1 Ilmu Hukum
    UNU Gorontalo (On Going)
  • D3 Mesin Pertanian
    Politeknik Gorontalo (2012)
  • Sertifikasi Mediator (CPM)
    IPPI/DSI
  • Pendamping PPH
    Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

Karir

  • Hakim BPSK BoneBol
  • Kabiro Tatiye.id
  • Founder PT. Alia Agro Nusantara
  • Staf Komisi II DPRD Bone Bolango
  • Founder PT Nusatimes Media Indonesia
  • Pendamping PPH di BPJPH

Organisasi

  • Ketua Umum HIPMI BoneBol
  • Ketua DPD BAPERA BoneBol
  • Sekretaris DPD KNPI BoneBol (Eks)
  • Ketua Bid. PPD HMI Gorontalo

Lensa Kegiatan

Kegiatan Bersama Wakil Ketua DPRD
Bersama Bupati
HIPMI Action
Pelantikan HIPMI

Gagasan & Opini


ANALISIS EKSKLUSIF

PERANG IRAN VS AS:
EKONOMI INDONESIA DI UJUNG TANDUK?

Oleh: Zulkifli Ibrahim, A.Md., CPM.
EDITOR-IN-CHIEF | MEDIATOR PROFESIONAL

Dunia hari ini sedang berdiri di atas tumpukan jerami yang siap terbakar. Eskalasi ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS) bukan lagi sekadar bumbu diplomasi di podium PBB, melainkan ancaman nyata yang bisa meruntuhkan stabilitas global dalam sekejap.

Sebagai pengamat media dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia informasi, saya melihat bahwa konflik ini memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar adu kekuatan militer. Ini adalah perang urat saraf ekonomi yang dampaknya akan merambat hingga ke meja makan rakyat kita di Gorontalo.

Iran bukan pemain kecil dalam peta energi dunia. Posisi geografisnya yang menguasai Selat Hormuz menjadikannya pemegang kunci atas sepertiga lalu lintas minyak mentah global yang diangkut melalui jalur laut.

Jika konflik fisik pecah di jalur tersebut, maka distribusi energi dunia dipastikan akan mengalami penyumbatan total. Dampak instannya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang bisa melampaui angka psikologis 100 dollar per barel dalam hitungan hari.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak adalah pedang bermata dua yang lebih banyak melukai daripada menguntungkan. Sebagai negara net importir minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan langsung menekan ruang fiskal dalam APBN kita yang sudah sangat terbatas.

"Beban subsidi BBM akan membengkak secara eksponensial. Jika pemerintah tidak segera melakukan penyesuaian, maka defisit anggaran akan melebar."

Jika harga BBM dinaikkan, daya beli masyarakat akan menjadi korban utamanya. Selanjutnya, dampak ini akan merembet ke sektor moneter melalui pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS.

Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung melakukan flight to quality, memindahkan modal mereka ke aset aman. Akibatnya, Rupiah terancam melemah secara signifikan.

Pelemahan Rupiah akan memicu kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri akan tercekik oleh biaya produksi yang meroket tajam.

Sektor pangan juga terancam. Indonesia masih mengimpor komoditas kunci seperti gandum dan kedelai. Jika jalur logistik terganggu, harga pangan pokok di pasar lokal akan ikut terkerek naik.

Dampak selanjutnya adalah pada suku bunga. Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi, yang menyulitkan akses modal bagi UMKM.

Di daerah seperti Bone Bolango, kita harus mulai menyadari bahwa ketergantungan pada logistik luar daerah membuat kita rentan terhadap inflasi biaya transportasi akibat harga bahan bakar.

Penting bagi kita untuk memperkuat kemandirian ekonomi dari level mikro. Pertanian dan pangan lokal harus diperkuat agar ketahanan pangan daerah tetap kokoh berdiri.

Peran mediasi sangat krusial. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha diperlukan untuk mencegah spekulasi harga yang merugikan konsumen di tengah situasi krisis ini.

"Man Jadda Wa Jadda"

Sebagai penutup, dengan kesungguhan dan kecermatan kebijakan, kita pasti mampu melewati badai geopolitik ini. Kemandirian ekonomi adalah harga mati bagi kedaulatan bangsa.

© 2026 ZULKIFLI IBRAHIM OFFICIAL